A TRAVELER WITH GREAT ADVENTURES EXPLORING MOUNTAINS, BEACHES AND CULTURES

MY KAFE WRITER

Ajaib Hidup Ini.
Sebuah dunia untuk setiap perjalanan mengandung setiap langkah, setiap tarikan dan hembusan napas, setiap denyut nadi, setiap denyut jantung, setiap tetes keringat, ada makna, ada proses, ada pembelajaran, ada spiritualitas, ada senyuman, ada tangisan dan ada cerita
Recent Tweets @aarievo
Who I Follow

Van yang membawa kami dari El Nido ini meluncur mulus di jalanan pedesaan melintasi sawah-sawah dan hutan-hutan. Jalurnya pun naik turun bukit, kabut terkadang masih muncul di jalanan. Matahari nampak malu-malu karena terhalang awan mendung. Pantai pun seringkali terlihat dari arah atas bukit, indah pemandangannya. Hingga akhirnya kami pun berhenti di tempat makan yag sama ketika kami berangkat ke El Nido dan Puerto Princesa. Cukuplah untuk mengganjal perut disini dengan semacam pop mie. Buat yang muslim hati-hati juga milih pop mie, karena ada yang mengandung babi.

Setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan, karena van ini tujuan akhirnya ke Puerto Princesa dan kami ke Sabang, jadinya kami turun di sebuah pertigaan bernama Juction. Disini merupakan titik batas yang memisahkan tujuan, apabila dari Puerto Princesa mau ke Sabang, tinggal belok ke kiri, tapi apabila ke El Nido belok ke kanan. Kami sampai di Juction pukul setengah 10 dan jam 10 van kami dari ThreeBee datang menjemput kami. Tepat waktu seperti yang mereka bilang dari awal. Hanya saja yang ga begitu gue suka dari petugas van kami dari El Nido, tas-tas kami sembarangan saja ditempatkan di van itu. Alhasil tas gue kotor kena lumpur. Pas gue komplain, dia cuma bisa menyalahkan orang di El Nido yang memasukkan tas tersebut sembarangan. Sial.

Baiklah, jadi di dalam van tour ke Sabang ini sebagian besar adalah orang lokal alias pinoy, trus ada 2 bule Itali dan 3 orang bule Indonesia hehehe…Yang akan menjadi pemandu kami bernama Alex. Ketika mereka tau kami dari Indonesia, ada keluarga pinoy yang langsung bercerita bahwa mereka habis jalan-jalan ke Jakarta, ke Grand Indonesia, Taman Safari begitu katanya. Dan dia pun bercerita anaknya yang saat itu ikut juga sangat enjoying bermain dengan anak harimau dan berfoto bersama hehe… Seumur-umur gue malah belum pernah foto sama harimau di Taman Safari.

 Baru sekitar 15 menit kami singgah di sebuah tempat penjualan souvenir. Sekitar 10 menit lah disana, dan kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Sepanjang perjalanan kami ke Sabang yang ditempuh selama 1 jam itu Alex ga berhenti-hentinya menjelaskan hal-hal yang kami lewati. Ada Ugong Rock, Bukit Tres Maria, Manggrove dan terakhir akhirnya kami berhenti di Elephant Cave. Nah disini kami bertemu rombongan lain dan ketemu orang Indonesia juga. Taunya darimana, karena mereka ngomong pake logat Surabayaan hehe.. Tapi kami cuek aja si, nyapa juga engga, habis oranag tua semua haha.. Setelah itu kami meneruskan perjalanan. Dan banyak hal lucu yang  Alex ceritakan hingga bisa membuat kami tertawa terpingkal-pingkal yang berhasil membuat perjalanan sangat menyenangkan, seakan kami sudah kenal akrab satu sama lain. He made it good.

image

image

image

image

Setelah melewati yang namanya The Sleeping Giant, sebuah puncak perbukitan yang menyerupai raksasa yang sedang dalam posisi tidur., tak berapa lama kami pun sampai di Sabang. Kami kemudian dibawa ke daerah pantai yang cukup ramai dan ternyata disinilah kami akan makan siang. Menunya cukup sederhana, ala buffet, ada nasi, daging ayam, babi, sayuran, mie dan minumannya coke. Kami semeja dengan sepasang pinoy, mereka berasal dari Manila dan sangat ramah, dan kami pun saling bertukar cerita tentang wisata di masing-masing negara. Sayangnya yang mereka tau dan sangat tertarik untuk datang adalah ke Bali. Namun kami bilang ke mereka, Indonesia ga cuma punya Bali, ada banyak keren lainnya kaya Lombok dan Raja Ampat.

Setelah selesai makan, kami pun bergegas ke pelabuhan tempat kami akan naik kapal menuju ke Puerto Princesa Underground River. Apa itu? Klo kalian belum tau apa itu Puerto Pricesa Underground River, itu adalah sebuah gua hidup dimana di dalamnya mengalir sungai . Cuma itu aja, tentu tidak. Tempat ini menjadi sangat terkenal setelah dinobatkan menjadi salah satu New 7 wonder of Nature bareng dengan Taman Nasional Komodo di NTT. Nah di dalam gua ini terdapat berbagai macam ornament-ornamen gua yang sangat menakjubkan.

image

image

image

image

Tapi baru beranjak sebentar dari tempat makan, teman-teman pinoy kami nyobain tamilok (woodworm). Kebetulan ada yang jual di dekat situ. Dan selama kami makan tadi, sebenarnya gue sama anggun sudah memperhatikan di meja seberang kami ada sepasang suami istri yang makan tamilok. Trus apa itu tamilok? Tamilok itu adalah cacing yang hidup di bawah akar pohon mangrove. Warnanya putih, besar, panjang dan berlendir. Mirip ulat yang hidup di batang sagu yang sudah mati di pedalaman Papua.

Tamilok ini dijual per plastik kecil, ditempatkan di termos agar kesegarannya terjaga. Untuk menyajikannya cukup mudah, tinggal taruh tamilok di dalam mangkuk kecil. Untuk saus dan bumbunya hanya berupa irisan cabai, bawang putih, bawang merah, garam dan air jeruk. Cara makannya tinggal ambil tamilok dengan garpu lalu dicelupkan ke saus tadi lalu dimakan deh. Rasanya, kata mereka yang makan si enak kaya makan tiram, kenyal-kenyal gitu. Gue kagak napsu makannya, yang ada perut gue bergejolak nahan mual.

image

image

image

image

Oya, untuk traveling kesini, gue saranin si mending pake tour saja, karena lebih mudah. Dalam satu hari pengunjung dibatasi hanya sampai 600 orang saja. Apalagi kita harus mengurus ijin dulu di kantor pusat City Colisium, gedung tempat pembuatan ijin tersebut. Karena kami memakai jasa tour jadinya kami bisa cukup cepat di urus, tapi kami tetap mengikuti semua alur perijinannya secara normal. BUkan berarti yang mengurus ijin sendiri tanpa tour lama pengurusannya, tapi setidaknya kami tidak harus mnegantri lama, bisa didahulukan. Surat ijin ini kalo menurut gue selain ada pembatasan pengunjung per harinya juga ijin memasuki Underground River yang diijinkan hanya sampai 1,5 km saja. Untuk lelbih dari jarak tersebut akan memerlukan ijin yang lain dan biasanya itu para peneliti. Rincian urutan bikin ijin ke Puerto Princesa Underground River plus biayanya, bisa dilihat gambar di bawah ini.

Kami terbagi menjadi 2 kelompok, karena satu kapal ga cukup memuat rombongan kami semua. Di kapal gue sendiri terisi 8 orang termasuk 2 orang wisatawan lokal tapi bukan rombongan kami. Kami ngobrol-ngobrol, mereka bilang mereka tadi habis mencoba zip line (klo kita bilangnya flying fox) yang kebetulan saat itu kapal kami melewati area tempat zip line tadi, dan mereka bilang kami harus mencobanya. Dari kapal kami memang dapat kami lihat ada orang sedang meluncur dari ketinggian menuju ke arah pantai.

Perjalanan 30 menit pun mengantarkan gue and friends ke suatu pantai disisi lain pulau. Tebing tinggi di sebelah kanan dan pasir putih di sebelah kiri menghampar memanjang, dibelakangnya penuh dengan rimbun pepohonan dan air laut yang hijau lumut cerah. Kami segera turun dan berjalan ke arah pintu masuk. Persis di sebelah kanan pintu masuk terdapat  sebuah tugu yang merupakan tanda bahwa Puerto Princesa Underground River sebagai salah satu New 7 Wonders of Nature.

image

image

image

image

image

Alex mengurus semua keperluan perijinan, kami hanya tinggal mengisi buku tamu saja. Jalan menuju ke underground river berupa papan kayu yang menyerupai jalan setapak dengan tanda-tanda yang jelas. Sementara di sekitarnya kita bisa menjumpai monyet yang berkeliaran dengan liar dan banyak biawak. Kami pun segera berjalan sekitar 300 meteran menuju ke arah sungai. Air sungai yang berwarna hijau dan sebuah gua yang besar pun terlihat disana. Kami pun harus menunggu giliran untuk masuk, karena saat itu pengunjung sudah mulai rame.

Sambil menunggu kita bisa keliling sekitar dulu sambil foto-foto. Tempatnya teduh dan sangat dekat dengan pantai. Jadi aliran sungai yang melewati gua ini akhirnya mengalir ke pantai di dekatnya. Saat giliran kami hampir tiba, kami pun diwajibkan memakai pelampung dan helm keselamatan. Dan akhirnya giliran gue naik kapal kano pun datang. Jadi ada rombongan sepertinya dari China gitu, nah kapalnya masih muat untuk 3 orang, yaudah gue bertiga temen-temen diikutkan deh berpisah dari teman-0teman satu rombongan. Tak masalah lah ya, sama aja kok with or without, duduk manis aja di bagian paling belakang kapal bareng anggun, sementara mba wati ada di depan gue.

image

image

image

image

image

Satu kapal bisa diisi sampai 10 orang duuk berderet dua-dua dan satu guide yang berfungsi sebagai pendayung juga. Kami dilengkapi satu buah senter besar yang akan dibawa peserta yang duduk di depan, gunanya tentu saja sebagai penerangan kami. Dan selama di kapal kita juga dilarang memasukkan tangan kita ke dalam air. Takutnya klo tiba-tiba ada buaya kan ga seru tuh. Mulut gua Puerto Princesa ini dari kejauhan Nampak kecil, namun ketika sudah mendekat lumayan besar dan disekeliling terdapat stalagtit yang simetris dan besar-besar. Ketika kami mulai masuk ke dalam gua, ternyata gua ini memiliki ruangan yang besar, luas dan langit-langit yang tinggi.

Nah si pemandu akan menjelaskan apa-apa saja yang terdapat di dalam gua ini. Ada banyak keajaiban ornament baik itu berupa bentuk-bentuk stalaktit dan stalagmit yang menyerupai lilin raksasa, holy family,little angel, kuda pegasus, ular, jamur raksasa, kacang tanah, kotoran, gambar jerapah bahkan bentuk wanita seksi yang dijuluki Sharon stone’s boob. Semua ini tentu saja alami dan terbentuk ratusan tahun yang silam.

Anggun yang sedikit fobia dengan tempat gelap tiba-tiba ngomong ke gue, gimana kalo tiba-tiba kapalnya tenggelam. Njrittt, gue buru-buru bilang husss ke dia, dasar dodol hehe… Dari semua rombongan kecil ini kayanya yang aktif banget foto-foto isi gua cuma gue, meskipun ga bisa terlalu bagus tapi lumayan lah ya ada dokumentasinya. Dan ga terasa kami sudah setengah perjalanan, kapal pun memutar balik. Di dinding-dinding gua bagian bawah terlihat menempel kerang-kerang kecil, sepintas jadi inget Belitung hehe…

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Saat jalan balik kami pun bertemu dengan kapal-kapal lain yang sudah masuk ataupun yang baru mau masuk. Dan akhirnya selesai sudah 45 menit perjalanan menyusuri Underground river ini. Kami pun turun dan setelah mengembalikan pelampung dan helm kami langsung menuju ke titik awal sambil menunggu teman-teman yang lain. Disini ada satu stand foto, yang menjual foto-foto kami selama di dekat gua. Jadi ketika kami akan memasuki gua dan ketika kami keluar gua, ada beberapa fotografer mereka yang memang bertugas memfoto pengunjung. Yang berminat dengan foto bersama rombongan bisa langsung dicetak disini dengan harga php 500 kalo ga salah inget. Cukup mahal lah, tapi biar ada kenang-kenangan ya tetep dibeli sih hehe…

image

image

image

image

image

image

Setelah semua berkumpul kembali kami pun segera menuju kapal dan kembali ke Sabang. Sebenarnya di Sabang banyak hal yang bisa kita lakukan, ga hanya ke Underground River aja, kita bisa trekking selama 3 jam dan itu tembus ke underground river, bisa juga bird watching, atau menjelajah hutan mangroove. Kita juga bisa jalan-jalan di pantai Sabang yang indah sambil nyobain tamilok kalo mau hahaha… Kalo jajanan bisa juga nyobain yang cukup unik, ice blends yang namanya scrambles. Dengan 10-12 peso, segelas scramble bisa kita nikmati sambil jalan-jalan.

Kami pun segera kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan kami. Kali ini kami berhenti di Ugong Rock, sebuah bukit karst yang di dalamnya berupa gua-gua yang dapat kita masuki. Ada beberapa tantangan yang bisa kita coba disini, dua diantaranya climbing melewati gua-gua karst menuju ke puncak bukit dan turun dari puncak ugong rock dengan zip line (flying fox). Harga climbing  ugong rock ini php 500 sementara zip line php 400. Sebelum daftar kita diharuskan menimbang badan dulu, karena ada ketentuan berat badan maksimal. Helm dan sarung tangan menjadi peralatan yang wajib dikenakan.

Yang ikut tantangan pacu adrenalin ini cuma 7 orang saja, 3 pinoy, 2 indonesian, 2 italian. Benar-benar sebuah tantangan climbing di gua karst ini, gua sempit dan gelap, tali dan tangga kayu vertical juga di tempatkan untuk membantu kita naik. Rata-rata 45 menit yang kita butuhkan unutk mencapai puncak Ugong Rock ini, di atas puncak terdapat sebuah ruang terbuka dengan lantai papan kayu, nah dari sini nanti kita langsung turun dengan zip line. Temen-temen semua turun melalui zip line, sementara gue dan anggun turun melalui gua-gua lagi karena kami ga membeli paket zip line. Bukan apa-apa, karena duit kami sudah menipis hahahaha….

image

image

image

image

image

image

image

image

Setelah dari Ugong Rock kami pun kembali ke kota Puerto Princesa. Sampai dikota kami diantar sampai penginapan kami masing-masing, dan kami pun cukup kaget karena penginapan kami, House of Rose,  lokasinya lumayan di pinggir kota namun dekat dengan bandara. Lumayan susah juga kalo mau ke kota, tapi enak buat istirahat, karena sepi sekali daerahnya.

Setelah bersih-bersih dan istirahat sebentar, kami pun menuju kota naik tricycle yang sebelumnya kami pesan lewat petugas hotel. Tarif ke kota php 50 untuk bertiga, tujuan kami Kinabuch. Ini adalah restoran yang terkenal dan rekomended di sini. Sekitar 10 sampai 15 menit kami pun sampai di Kinabuch, letaknya ga begitu jauh dari bandara sekitar 15 menit dari keramaian kota.

Kami pun masuk di area restaurant yang bertema open air ini, ramai sekali, hingga kami pun kesulitan menemukan kursi yang kosong malam itu. Akhirnya kami pun menyerah dan berjalan kaki menuju kota kali aja ada tempat makna yang menarik lainnya. Hingga akhirnya kami tak menemukan yang lebih menarik dari Kinabuch dan malah mampir ke mini market dan beli snack-snack khas Filipina dan gue nemu yang asik, garlic bread sama corn bawang (jagung mirip marning rasa bawang). Dari mini market kami mengarah ke jalanan disebelahnya, ada banyak food street disana. Ada lumpia, ayam goreng, sate-satean, goreng-gorengan dan berbagai masakan, semuanya menggiurkan lidah. Karena khawatir makanannya mengandung babi (walaupun sudah bertanya juga si sama penjualnya), demi untuk menyalurkan rasa penasaran, akhirnya beli lumpia isi sayuran sama isi ayam, 1 buah harganya php 5, cukup enak kok meskipun ukuran lumpianya cuma kecil banget.

image

image

image

image

image

image

Akhirnya kami putuskan untuk kembali ke Kinabuch, ini juga karena penasaran dengan restaurant ini. Akhirnya kami nemu kursi kosong tapi sayangnya piring-piring dan gelas bekas pengunjung sebelumnya belum dibersihkan. Sempat nunggu lama sampai akhirnya kami menemukan petugas disana untuk membersihkan. Entah karena pengunjungnya yang penuh sehingga para pelayannya pun sampai kewalahan atau bagaimana, buku menu yang kami minta pun tak kunjung diberikan. Kami pun akhirnya mengambil sendiri yang terletak di pantry mereka. Ketika melihat menu disini yang dilihat bukan jenis makanannya tapi harganya dulu hahaha, mahal-mahal euy. Bagi gembel kaya gue harga disini bisa buat mencukupi hidup sehari lagi disini *garuk-garuk tanah dipojokan.

Lama buat kami memutuskan mau makan apa. Semuanya enak si, cuma harganya ga enak di kantong. Duit dah menipis sementara kami masih punya 3 hari lagi di Filipina. Harusnya kami ngamen disini untuk menyambung hidup, ga ah, mending jadi gigolo aja #lah. Mba wati akhirnya pesan ayam goreng, anggun dengan dalih diet dan ga laper akhirnya ga pesan makanan, sementara gue memutuskan memesan garlic rice. Gue pilih ini karena harganya paling murah dan gue pikir ini pasti mirip nasi goreng gitu, nasi yang digoreng dengan rasa bawang. Pas gue pesan itu, pelayannya nanya hanya itu saja, eh dianya malah keliatan bingung gitu, entahlah.

Minuman datang duluan, jus kedondong buat gue, jus jeruk nipis buat anggun, mba wati gue lupa minum apa. Gue inget si anggun karena dia pun akhirnya ga minum jus nya karena terlalu asem, nasib lo Gun Gun, makanan tak pesan, minum pun pun asem, tapi namanya juga jeruk nipis ya hehe… 15 menit kemudian makanan pun datang, ayam goreng mba wati trus garlic rice gue. Asli gue kaget banget, sepiring besar nasi dikasih ke meja depan gue. Gue hampir komplain karena gue cuma pesan 1 porsi aja, lha ini kok dikasih 3-4 porsi. Tapi menurut Anggun, sepertinya memang segitu porsinya. Dan lo tau, itu cuma 1 porsi besar nasi putih biasa lho, bukan nasi goreng seperti yang gue bayangin, ngakak lah klo inget itu. Akhirnya gue harus makan nasi putih doang tanpa lauk hik..hik..hik…Mau foto nasinya pun gw malu hehe..

Aroma garlic rice ini sangat sedap, wangi bawangnya kerasa sekali, nasinya sedikit berminyak membuatnya menjadi shiny. Gue coba makan sesuap dan itu rasanya angin Surga menghembus ke badan gue, uenakkkkkkkk bangettttttttt. Nasinya pulen, asinnya pas, dan rasa bawangnya kerasa betul. Klo begini mah makan nasi ini doang gue juga rela, sampai akhirnya hampir gue sendiri yang habisin tuh nasi. Mba Wati cuma minta beberapa sendok, Anggun cuma nyobain sesendok doing. Mba Wati akhirnya ngasih gue 2 potong ayam gorengnya buat lauk hahaha…mantap, tapi emang garlic rice nya enak banget, maknyus, ajib, lazies wow hehe… Herannya gue, makan nasi sebanyak itu ga merasa kenyang banget, kenyang biasa aja, aneh bener.

Kenyang ngantuk pun datang, kembalilah kami ke hotel naik tricycle lagi. Di hotel packing bentar karena besok pagi harus segera ke bandara terbang menuju ke Cebu. Yep, petualangan seru belum berakhir.

image

image

image

image

image

image

image

Esok harinya setelah kami sarapan, kami pun bareng pemilik hotel yang vorang amerika menuju ke bandara, katanya dia mau sekalian kluar ada urusan. Begitu masuk bandara, yaoloh antrian cek in Cebu Airlines panjang banget. Dan disana kami ketemu travelmate tour di Sabang dan di El Nido termasuk Hamid, mereka berada di antrian menuju Manila.

Setelah semua urusan cek in selesai dan akhirnya boarding, panggilan masuk pesawat menuju ke Cebu pun berkumandang dan Cebu kami datanggggggg………

Ketika senyummu tak terbalas, Allah telah menghitung manisnya senyummu. Saat sapaanmu tak terjawab, Allah tak lupa berapa kata yang kau ucapkan. Saat ajakanmu tak terpenuhi, lelahmu takkan tertinggal dicatat Roqib-Nya. Ketika kau menangis atas perihnya perjuanganmu, Allah tak lalai menghitung berapa tetes air matamu. Ketika ikhtiarmu belum atau bahkan tak dihargainya, Allah senantiasa telah menghargai setiap usaha, setiap paket proses yang kau lalui. Ketika mereka lari meninggalkanmu, Allah tak pernah lupa menyertaimu

(via nellabercerita)

Allahuakbar!! Bahkan setiap ikhtiarpun bernilai pahala.. :)

(via fithriutami)

Di suatu daerah entah apa namanya dalam perjalanan ke El Nido, kami berhenti di sebuah rumah makan kecil dan sepertinya ini bangunan satu-satunya yang ada di sepanjang jalan yang gelap disekitarnya. Gue sendiri memilih untuk tetap berada di dalam, udah pewe dengan posisi tidur hehehe…

Sampai di El Nido sekitar jam 2 dini hari, 6 jam perjalanan dari Puerto Princesa, kami diantar persis di depan hotel kami yang sudah kami pesan sebelumnya, namanya Marina Garden Beach Hotel and Resort. Tadinya kami sudah pesan yang menghadap pantai tapi ternyata penuh, akhirnya kami dapat yang menghadap jalan. Ga masalah lah, toh ke pantai tinggal ngesot doing juga.Dan taraaaa…..kamar dan tempat tidurnya didesai bak kamar Barbie klo boleh dibilang hahaha…..baiklah saya akan jadi Ken untuk semalam ke depan.

image

image

image

image

image

image

Tidur adalah agenda kami berikutnya karena besok kami kami akan ikut eksplore El Nido seharian. Pagi-pagi habis subuh gue bareng anggun ke pantai dan ke resepsionis hotel menanyakan untuk tur pagi itu. Resepsionis bilang mereka bisa arrange tur buat kami pagi itu, nanti jam 9 kami disuruh langsung menunggu di pantai saja. Tour sendiri sebenarnya bisa di pesan dimana saja, di penginapan, restoran atau agen tour yang banyak terletak disepanjang jalan.

Jenis tour nya pun ada beberapa yang bisa dipilih seperti Tour A “The Lagoons of Miniloc” dengan iten hoping island dari Small Lagoon, Shimizu Island, Secret Lagoon, Big Lagoon dan Seven Commando Beach harga php 700. Tour B “The Caves and Snake Island” itennya dari Pangalusian Island, Snake Iskand, Cudugnon Cave, Chatedral Cave, Pinagbuyutan Island harga php 800. Tour C “The Beaches of Matinloc” itennya berupa Hidden beach, Colasa Beach, Matinloc Shrine, Secret Beach dan Helicopter Island dengan harga php 900. Yang terakhir Tour D “Cadlao Island” itennya akan menjelajahi Cadlao Lagoon, Pasandigan Beach, Paradise Beach dan Nat-nat Beach harga php 700. Tinggal pilih saja mau ikut tour yang mana. Masing-masing tour ini bakal menghabiskan waktu seharian, kecuali Tour D yang half day tour. Jadi kalo ingin merasakan perbedaan masing-masing tour ya setidaknya harus alokasikan waktu di El Nido minimal selama 4 hari. Oiya kita diwajibkan membayar environmental fee sebesar php 200 per orang berlaku untuk 10 hari.

Karena gue dan teman-teman cuma punya alokasi waktu sehari aja di El Nido, jadi kami memilih paket tour A. Kenapa, karena menurut info yang diperoleh dan tanya sana sini yang paling bagus di antara semua tour itu ya tour A.

Setelah bersih-bersih, mandi dan mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawa, kami pun segera sarapan di bagian belakang hotel yang menghadap ke pantai. Dahsyat bener pemandangan disini, paduan yang sempurna, sarapan pagi ditemani suguhan Surga dunia El Nido. Rasanya pengen dilamain sarapannya hehe…

image

image

image

image

Seorang ibu-ibu menghampiri kami dan menanyakan dan mengkonfirmasi tour yang akan kami ikuti pagi itu. Dia menawari kami untuk ikut tour C juga, jadi kombinasi tour A dan C, karena ada orang yang ambil tour tersebut dan kurang orang. Tapi teman-teman kurang berminat karena takut kecapekan apalagi besok pagi jam 5 dini hari harus meneruskan perjalanan ke Sabang. Btw ini Sabangnya Palawan ya bukan di Aceh hehe…

Akhirnya kami digabung sama kelompok dengan tujuan yang sama. Ibu-ibu tadi membawa kami menuju kapal dan jauh aja jalannya euy. Kapalnya udah siap, penumpang yang lain udah naik semua di kapal tinggal kami bertiga yang tertinggal, kapal pun sudah berada agak jauh dari pantai jadi kami mesti melewati air sepaha sejauh 200 meter menuju kapal. Dan begitu naik kapal jreng jreng, orang berkulit pucat semua yang ada di kapal.

Jadwal kami sedikit molor gara-gara pelampung yang ada kurang dan kru kapal sedang berusaha mencarikan. What??mencarikan?? Iya mencarikan, karena ternyata kami dari agen yang berbeda-beda dan tiap agen ga langsung menyediakan pelampung buat kami. Jadinya ada yang udah dapat pelampung ada yang belum termasuk kami bertiga. Lumayan juga molor setengah jam an menunggu pelampung sampai para bule-bule ini kesal dan bertanya-tanya, terutama grup dari Perancis yang selalu aja ngomel ga berhenti-henti, ribut aja, anehnya yang cerewet itu yang laki-laki bukan yang perempuan. Apalagi melihat kapal-kapal lain sudah mulai berangkat untuk tour mereka. Ditambah lagi mulai gerimis, huaaa tambah kesel dah tu bule-bule, bakal jadi trip galau klo kaya gini nih hehe….

image

image

image

image

image

Akhirnya yang tadinya dijadwalkan berangkat jam 9 jadi berangkat jam 10 pagi. Horeee, kita berangkattt, El Nido I can’t wait to see you. Kami ditanya salah satu dari 3 kru kapal, kami berasal dari mana dan tinggal di hotel mana? Dengan gagah berani kami jawab Indonesia tanag air beta, tinggal di Marina Garden Beach. Yeahhh we look like Filipino, makanya mereka ngira kami ini juga pinoy. Memang dari awal kami kami sampai di Filipina sudah dikira sebagai pinoy, karena muka kami ini memang seperti pinoy, yang bedain cuma kami ga bisa berbahasa tagalog aja kok.

Perjalanan 30 menit sampailah kami di tujuan pertama, small lagoon. Untuk menuju ke small lagoon ini setidaknya kami harus berenang dulu sekitar 250 meter dari kapal kami berlabuh. Sebenarnya ketinggian air tidak begitu dalam, antara sepaha sampai dua meter lah.  Namun karena dibawahnya berupa karang-karang terjal jadinya agak menyulitkan kalau kita mau berjalan melewatinya. Kita bisa juga naik kayak kalo memang disediakan oleh pihak tour.

Peserta tour bule langsung pada nyemplung, Kami juga, tapi cuma gue dan anggun, mba wati ga mau basah katanya jadi mau dikapal aja. Ditemani oleh salah satu kru kapal yang namanya gue lupa tapi ramah banget, gue sama anggun dibawa menuju ke small lagoon, pintu gerbangnya adalah sebuah celah sempit dengan air yang mulai berwarna hijau cerah. Cantik banget. Di balik celah sempit ini terdapat laguna yang cukup besar dan menyempit di ujung satunya. Namun di ujung satunya lagi merupakan jalan masuk untuk ke laguna yang lain yang lebih besar. Di laguna yang lebih besar terdapat 2 gua pendek (berdasar yang ditunjukkan ke kami), yang satu lebih terang karena ujung atasnya bolong, sedang satunya terendam air dan gelap namun ada satu batu di dibagian tengah gua ini yang bisa kita duduki. Lumayan seram ketika gue mencoba masuk dan duduk di batu dalam gua tersebut. Suasana gelap dan air pun menjadi berwarna gelap juga, jadi sedikit merinding, akhirnya gue pun segera keluar hehe…Sementara itu anggun tak berani untuk masuk.

image

image

image

image

Akhirnya kami berenang kembali menuju ke pintu masuk laguna, cukup membutuhkan waktu juga, karena cukup berat untuk berenang kesana. Anggun yang kepayahan berenang pun dibantu oleh guide kami. Dan ketika kami sudah berada di celah pertama, kano sudah tersedia menjemput kami. Katanya biar cepat sampai kapalnya dan kami lihat peserta tour yang lain sudah berada di atas kapal semua. Cerita-cerita dari mba wati, ternyata mereka sudah menunggu kami sekitar setengah jam an. Biar ga ngerti bahasa mereka tapi mba wati bisa menduga mereka ngomel-ngomel bête dan lagi-lagi yang dari Perancis kata mba wati, sampai kru kapal mengirim kano untuk menjemput kami. Sementara peserta trip yang lain entah dari negara mana lebih kalem ga banyak omong. Yahh kami kan ga tau, kesini kan tujuannya ke small lagoon, ya karena itu gue ma anggun masu kesana, apalagi ada guide dari kapal juga. Ternyata mereka ini semua ga masuk ke dalam laguna dan hanya berenang-berenang saja di sekitar kapal. Dan mereka bosan karena ga ada terumbu karangnya, kasian deh lo. So, bukan salah kami berdua kalo kalian jadinya bosan, makanya menjelajah dong kaya kami.

Dari small lagoon kami meluncur ke Simizu island. Disini terdapat pantai yang cukup panjang, pasir putih dan ramai sekali bule. Yep, disinilah kita akan makan siang. Disini pula kami berkenalan dengan seorang peserta tour dari tour kami, namanya Hamid, orang Tunisia. Akhirnya kami saling bantu-membantu untuk menfotokan hehe….friend in benefit, right? Yang paling bahagia tentunya mba wati, banyak pemandangan indah disini untuknya. Terutama pemandangan bule-bule kekar bertelanjang dada hahaha (digebukin mba wati). Tapi akrab sama Hamid pun cukup buat mba wati seneng, betul kan mba wati *piss, semoga dia ga membaca tulisan ini hahahaha…..Nah hal yang paling mengharu biru adalah nyariin tempat buat mba wati pipis. Disini ga mau, disana ga mau, suruh pipis di air ga mau, pipis di dalam gua ga mau, dan entah akhirnya pipis atau ga, kayanya harus gue tanyakan lagi hehehe…

Sembari menunggu makanan kami siap, kita bisa snorkeling juga disekitar pantai. Katanya terumbu karang disini cukup bagus, seperti yang Hamid bilang. Gue sendiri ga males buat snorkeling, terutama karena ombak nya cukup kencang. Daripada bengong jadinya gue mengganggu kru kapal yang lagi nyiapin makanan dengan sibuk fotoin mereka hehe. So inilah dia makan siang kami, ada ayam panggang, babai panggang ikan panggang, pisang dan nanas yang dibikin sedemikian rupa, cantik. Serbuuuu teman-teman….Nom..nom..nom…rasanya si biasa aja, tapi karena lapar ya jadi terasa nikmat, apalagi makan di tepi pantai dengan pemandangan yang alamak cantiknyo.

image

image

image

image

Tujuan kami selanjutnya, kami dibawa ke secret lagoon. Secret lagoon ini berupa laguna yang seperti terperangkap di tengah tebing yang cukup luas. Namun hati-hati untuk mencapai laguna ini, karena bagian bawah pantai yang harus kita lewati adalah karang-karang terjal, tajam dan cukup licin. Gue aja sempat terpeleset dan sandal gue lepas hehe… Dan untuk masuk kesana harus melewati sebuah lubang yang cukup untuk dileawti satu orang, jadi mesti antri satu-satu. Dari luar, laguna ini ga akan keliatan kalo ada sebuah laguna disana. Selain laguna, terdapat pantai dengan pasir putih yang cukup luas dan 2 buah tebing yang menjulang mirip sebuah pintu gerbang raksasa. Keren memang. Namun waktu disini tak bisa lama-lama karena keburu hujan, buru-buru lah kami menuju kapal kembali. Hujan cukup deras menemani kami, Nampak dikejauhan awan gelap dan beberapa siluet pulau-pulau, serasa misterius sekali tapi menawan.

image

image

image

image

Beruntunglah ketika sampai di Big Lagoon cuaca kembali cerah, secerah hati dan senyum kami yang terpesona melihat sekeliling.  Air yang bening, jernih sampai pasir dan terumbu karang terlihat dibawahnya. Kami pun di perintahkan untuk menuju geladak depan kapal agar kapal kami bisa melewati perairan ini menuju ke big lagoon. Karena kalo sampai kapal kami kandas seperti halnya kapal yang penuh abege bule yang tengah kandas di seberang kami, akan repot. Kapal kami perlahan-lahan melaju, terus..terus..terus…melewati perairan dan tebing-tebing, akhirnya sampailah kami di big lagoon. Laguna besar terpampang nyata di depan kami, luar biasa. Disini kami tidak terjun ke air, kami hanya dibawa keliling menaiki kapal. Di antara tebing-tebing di atas kami diperlihatkan sebuah batu tebing yang mirip dengan batman jika terlihat dari belakang, makanya disebut batman rock. Ada juga yang disebut sister rock karena mirip bentuk seorang perempuan.

Yang paling menakjubkan tentunya saat kami menuju pintu keluar. Warna gradasi air laut dan pemandangan sekelilingnya aduhai cetar membahana. Menakjubkan. Gue jadi bisa bayangin seandainya ini di Raja Ampat, apakah raja ampat lebih indah dari ini? Tapi memang El Nido ini kata orang Indonesia yang pernah kesini juga disebut sebagai Raja Ampatnya Filipina. Yah setidaknya meskipun belum kesampean ke Raja Ampat bisa ke El Nido dulu hehe… Yah bayangin aja cuy, biaya gue keliling di Filipina ini lebih murah daripada biaya gue kalo ke Raja Ampat.

image

image

image

image

image

Ketika kapal kami keluar perairan big lagoon, kapal bule-bule abege yang kandas itu masih berada di tempatnya semula. Kami pun meninggalkan mereka dan menuju tujuan terakhir, 7 commando island. 7 commando island mempunyai garis pantai yang panjang, pasir putih bersih, air yang biru dan cocok untuk bersantai bersama keluarga. Kalau mau berjemur juga bisa banget, karena cukup banyak bule-bule yang yang mengoleskan minyak biar kulitnya jadi gelap. Berenang dan snorkeling juga asik di pantai ini. Sekedar duduk santai sambil minum bir atau kelapa muda juga bisa dengan mudah didapat dari penjual disini. Sayangnya saat itu kami sampai sana masih sangat panas udaranya, yang ada kami pun mencari tempat berteduh dibawah pohon hehe…

Sekali lagi mba wati menunjukkan taringnya disini (emang vampire hehe). Hamid yang tadinya ngobrol dengan entah siapa, kemudian bergabung bersama kami. Dan….foto-foto lah kembali dan mba wati menjadi fotografernya. Dengan segala gaya dan fotografer dadakan pun ga kalah bergaya. Gue ma anggun yang melihat pun cuma bisa ketawa-ketawa dan menyemangati mba wati dan tak lupa mengambil foto mereka berdua. Sayangnya mba wati sampai akhir tour El Nido ini ga nyemplung laut sama sekali, ga seru ah kata anggun ke mba wati.

image

image

image

image

image

image

Akhirnya kami pun kembali ke pelabuhan dan sampai sekitar jam 5 an. Pamit-pamit ke kru kapal dan ke Hamid, dan kami hanya melewati turis-turis Perancis tanpa menyapa sedikit pun hehe.. After all buat gw pribadi tour ini cukup menyenangkan. Tadinya gw tu pengen banget setelah tour ini gue lanjut climbing ke taraw cliff yang letaknya sangat dekat dengan pelabuhan. Dari puncak taraw cliff itu nanti akan terlihat teluk el nido secara keseluruhan. Cuma karena kesananya pun butuh waktu normal setidaknya 3 jam naik-turun dan berhubung udah sore, akhirnya gue harus merelakan diri tidak kali ini.

Sampai hotel, bersih-bersih, mandi-mandi, jemur pakaian basah. Nah enakntya hotel kami ini ada tempat menjemur pakaian di samping hotel, ada hangernya pula. Agenda kami selanjutnya mencari adaptor buat charger. Karena di Filipina ini ternyata stop kontaknya beda ama di Indonesia dan kami gak tau hal itu, makanya kami ga mempersiapkan juga, padahal penting itu. Stop kontak di Filipina itu terdiri dari 2 kaki tapi pipih, ga bulat kaya di Indonesia. Kami tanya orang hotel mereka ga punya, trus disuruh beli di toko apa gitu gue lupa namanya. Akhirnya kami pun menuju toko yang dimaksud.

Kota El Nido sendiri adalah kota kecil dan cenderung remang-remang di malam hari. Tak banyak penerangan yang ada, rata-rata penerangan hanyalah yang ada di rumah-rumah dan hotel-hotel sumbernya. Di kanan kiri jalan terdapat beberapa toko souvenir, warung, toko kecil, ada satu money changer (meskipun sepertinya ga rekomended kecuali terpaksa), dan juga resto-resto makan. Namun jangan harap menemukan ATM disini, mau dicari keliling ribuan kali juga ga bakal ketemu karena di El Nido memang ga ada ATM. Karena itu sebelum ke El Nido tukarkan dulu uang peso di Puerto Princesa. Rate tukar di Puerto Princesa cukup baik kok.

image

image

image

image

image

Akhirnya kami menemukan toko yang dimaksud petugas hotel kami, tapi tutup. Kami mau lanjut jalan tapi kok jalanan semakin sepi, akhirnya kami berbalik arah kembali dan mencoba tanya di toko-toko yang ada dan tentunya tidak ada. Dan perut yang lapar sepertinya minta diisi, so, mampirlah kami ke resto pizza terdekat. Resto ini letaknya di lantai 2, yang punya bule, di menunya mencantumkan jus buah, tapi ketika dipesan mereka tidak menyediakan minuman itu. Baiklah. Kami pun memesan satu pizza buat bertiga. Mata yang tajam dan jelalatan mencari stop kontak, eaakkk ketemu, dan stop kontaknya sama dengan Indonesia punya. Lalu gue sama anggun balik hotel untuk mengambil alat charge dan hape kami semua yang sudah sekarat, bahkan mati.

Karena tempat charge cuma ada 2, jadinya harus gantian. Pizza pun sudah tersaji di meja, langsung dah kita serbuuuu…cukup nikmat dan mengenyangkan dan itu menjadi makan malam kami hehe… Karena ga enak juga berlama-lama disitu, apalagi makanan dan minuman kami sudah habis dan sudah ditanya pelayan resto apakah ada yang mau dipesan lagi? Kami pun beranjak pulang, tentunya setelah membayarnya. Lumayan lah hape dan kamera cukup mendapat energy baru.

Sampai di hotel kami ga langsung masuk hotel, tulisan “polisi” di seberang hotel yang tidak biasa membuat kami menuju kesana. Dan akhirnya kami pun malah bablas menuju ujung jalan. Disanalah terdapat toko yang benderang, ada jual pakaian, tas, dan yang paling bikin mata senang, jualan hape. Nah, kalo ada jual hape pasti ada adaptor juga ni kami pikir. Dan ternyata memang ada, horeee….Harganya cukup murah, beli 2 cuma 5 ribu rupiah.  

Kami pun segera kembali ke hotel dan melanjutkan nge-charge dan packing. Iya, besok jam 5 kami akan melanjutkan perjalanan menuju ke Sabang. Kami sudah pesan van dari Puerto Princesa yang akan menjemput kami langsung di hotel. Dan memang tepat waktu sekali ya van itu datang menjemput kami esok paginya. Setelah menjemput penumpang lainnya kami pun berangkat. Sampai jumpa lagi El Nido, kota kecil yang cantik, hope someday I can be back here again.

Touch down Puerto Princesa (PP) dan masih pagi, bandaranya kecil layaknya kota kecil pada umumnya. Di bagian dalam terdapat beberapa tur agen wisata yang menawarkan paket-paket wisata dengan beraneka harga. Kami pun sempat bertanya berapa biaya kesana dan kesini namun akhirnya kami memutuskan cek agen lain aja diluar. Jujur, sebenarnya kami itu gak punya rencana yang jelas di Puerto Princesa ini hahahaha….

image

image

Tadinya rencana semula kami mau menuju terminal San Jose naik tricycle (bajajnya orang Filipina) untuk nyari tiket van/bus menuju El Nido sore hari atau malam. Menurut info yang gue dapet ni van itu terakhir berangkat jam 18.00, sementara untuk bis ada Roro bis yang berangkat paling malam jam 22.00. Untuk tiket rata-rata van php 600, sedangkan bis lebih murah php 450. Nah setelah dapat tiket itu, kan masih punya waktu lama buat jalan-jalan dulu, mau kami bikin trip halfday ke Honda Bay (hoping island). So, berangkatlah kami ke terminal San Jose naik tricycle…wuzzzzzzz….

Sambil naik tricycle kami ngobrol sama sopirnya rencana kami. Kemudian dia pun menyarankan klo mau nyari van ke el nido di agen tur dekat sini saja, banyak kok, harga juga sama aja, Cuma beda waktu berangkat aja. Dari satu agen ke agen yang lain memang sama harganya Cuma kami ga nemu waktu yang pas, karena kami mencari yang jam 18.00 tapi kebanyakan jam 14.00 atau sekitar itu. Sampai akhirnya sopir tricycle itu mengantarkan kami ke ThreeBee, sebuah agen wisata plus van.

Dari sini kami pun akhirnya merancang plan yang baru dan bakal menjadi rundown traveling kami selama disini. Van ke El Nido jam 18.00 akhirnya kami dapat, tur sehari di Puerto Princesa Underground River sudah termasuk van dari El Nido ke Sabang dan Sabang_Puerto Princesa. Jadi garis besar itenerarynya menjadi seperti ini :

Hari pertama di PP traveling ke Honda Bay dan lanjut ke El Nido naik van jam 18.00

Hari kedua traveling di El Nido, hoping island

Hari ketiga traveling di Underground River

Jadi harga yang harus kami bayar total per orang php 1.750. Ini sudah termasuk van PP-El Nido, trip Underground River plus van, makan siang, tiket dan biaya pembuatan ijin masuk underground river. Setelah semua deal dan pembayaran selesai, kami pun harus mengurus ijin dulu untuk masuk ke underground river di hari ketiga. Setelahnya barulah sopir tricycle mengantarkan kami menuju Honda Bay.Yippy…

Jadi ya perjalanan menuju Honda Bay ini mirip sekali klo kita ke kota kecil di Indonesia, masih bisa melihat bukit-bukit, angin sepoi-sepoi dan jalanan yang tidak terlalu padat. Perjalanan selama sekitar 45 menit dan akhirnya kami sampai sodara-sodara dalam keadaan lapar hahaha…disini tidak ada yang menjual makanan, kalaupun ada Cuma warung kecil yang menjual snack-snack ringan saja.

image

image

image

Jadi Honda Bay ini sebuah kawasan pantai/laut mirip pulau seribu gitu lah. Disini kita bisa hoping island namun jaraknya cukup berdekatan. Disana ada yang menyediakan pakage tour php 1.500 per kapal dan bisa memilih pulau mana saja yang akan dikunjungi. Oiya, harga ini belum termasuk tiket masuk ke pulau-pulau yang akan disinggahi. Pulau-pulau ini tiket masuknya sekitar php 50-60 yang harus dibayarkan ketika akan masuk ke pulau. Selain harga paket php 1500, kami juga dikenakan environmental fee per orang php 60, entrance fee php 4 dan terminal fee php 3. Komersil sekali ya.

Akhirnya kami bertiga pun berangkat dan cerah sekali langitnya, biru dan panas hehe…Air lautnya bening dan birunya langit seakan menyatu dengan warna laut yang menjadi biru. Awan-awannya pun begitu dramatis indahnya dan perbukitan yang mengelilingi perairan ini sangat mempesona. Memang betul apa yang dikatakan @Duaransel saat kami mengobrol tentang rencana gue ke Filipina ini, dia bilang ga pengen ke Honda Bay, itu juga bagus lho, malah lebih oke daripada PP underground river. Gue jadi mikir, Honda Bay aja udah sedemikian kerennya, gimana El Nido yang katanya Surganya Palawan.

image

image

image

Rasanya kamera tak bisa berhenti untuk memotret, semua yang ada di foto, kapal yang lewat pun difoto, bahkan Anggun yang lagi make sunblock pun ga luput gue jepret hahaha…Satu pulau akhirnya sampai namun kami memutuskan tidak singgah dan lanjut ke pulau lainnya. Jadi pulau-pulau disini diantaranya ada yang bernama Pandan Island, Snake Island, Starfish Island, Reef Rambato. Sampai akhirnya di pulau ke empat dari 5 yang akan kami singgahi barulah kami turun pulau. Di starfish island ini seperti hal nya namanya bisa kita temukan yang namanya bintang laut. Enaknya disini pengunjung ga ramai jadi kita bisa menikmati pulau dengan nyaman.

image

image

image

Baru 15 menit kami disitu, gerimis pun turun dan dilanjutkan dengan hujan deras. Kami pun kembali ke kapal dan melanjutkan perjalanan. Hujan semakin deras saja saat kapal kami melaju menuju ke pulau terakhir. Bahkan ketika kami sampai di pulau terakhir pun justru hujan disertai angin kencang. Tadinya kami mau mampir untuk makan namun karena kami rasa keadaannya tidak memungkinkan akhirnya kami putuskan kembali ke pelabuhan Honda bay.

Setelah sampai di pelabuhan Honda Bay kami langsung berbilas air bersih di kamar mandi yang berada di bagian belakang bangunan. Karena kami janjian dengan tricycle kami untuk dijemput jam 17.00 sementara kami sudah selesai jam 15.30, jadinya harus menunggu cukup lama dalam keadaan lapar. Hiks. Dan akhirnya jam 16.30 tricyclenya datang dan kami pun minta diantar ke kota untuk menukar uang di money changer dan membeli makan. Tricycle ini kami membayar php 300 per orang.

Makan kami pun mencoba makanan siap sajinya Filipina yang mirip KFC itu, namanya Jolli Bee. Lucu ya, gue kira malah itu jualan madu hehehe…. Yaudah akhirnya kami pesan ayam sama burger, cuma anggun yang pesan spaghetti, itu pun akhirnya ga dimakan karena dagingnya kaya daging babi. Oiya klo makan di Jollibee jangan harap dapat saos tomat dan cabe, yang dikasih adalah saus barbekyu hihihi. Kembali ke kantor ThreeBee dan numpang makan disana. Entah kebetulan atau tidak kami di ThreeBee makan JolliBee, jangan-jangan ini jaringan Bee bersaudara hahahaha…

 image

image

Akhirnya van kami pun baru berangkat jam 19.30, itupun setelah akhirnya menjemput penumpang di lain tempat lain. Satu van jadinya berisi 10 orang termasuk sopir. Ada satu orang lokal, laki, telpon-telponan entah sama siapa, udah suaranya ga enak didengar ngomongnya pun teriak-teriak, lama pula ada sekitar 30 menitan. Namun tak ada satu pun penumpang yang menegurnya, bahkan penumpang lain yang juga orang lokal. Yasudahlah mari kita tidurrrr dalam 6-7 jam perjalanan ini…..semoga begitu bangun sudah sampai El Nido.

More fun with the Philippines, itulah slogan pariwisata punya negara tetangga kita Filipina. Dan memang ini saatnya buat gue untuk menjelajah salah satu negara kepulauan ini. Salah satu negara yang selama ini memang pengen banget gue datengin dan gue ubek-ubek. Semoga aja benar-benar bisa bikin gue fun ya selama disana.

Jadi intinya gue ke Filipina bertiga aja sama teman travel gue, Anggun & mba Wati. Berangkat sekitar pertengahan November 2012 lalu naik Air Asia. Gue pribadi anggap perjalanan ini sebagai travel gift ultah gue setelah perjalanan gue ke Sawarna seminggu sebelumnya hehe…Alhamdulillah ya bisa dikasih kesempatan traveling apalagi pake duit sendiri itu rasanya bangga (mesti tetep ngarep ada yang kasih sponsor hahaha).

image

image

image

Penerbangan gue dari Jakarta sore hari transit satu jam di Kuala Lumpur. Masih sempet dapat sunset di bandara LCCT KL dan masih sempet makan dulu di cafe favorit gue kalo di KL yang juga nyediain white coffee, The Old Town. Gw pesen curry mee sama huzelnut freeze coffee, total harga RM 21,8. Setau gue sekarang ada cabang mereka di Jakarta, ada di Terminal 2 bandara Soetta sama di Mall Taman Anggrek. Kelar makan, buru-buru langsung boarding dan terbang menuju Clark, Filipina.

 image

image

image

Pas sampe Clark, sepertinya hanya kami orang Indonesia, lainnya didominasi orang Malaysia dengan ras Melayu dan India yg berisiknya minta dibungkam pake balut. Setelah barisan kami, dibelakang ada muka-muka Korea yang hits banget dandanannya, ga laki ga cew semua dress up gilak dengan KPop nya. Yang paling menonjol ada seorang ibu muda dan anak perempuannya sangat-sangat KPop, pengen foto tapi ga enak, tar tiba-tiba tu ibu n anak langsung teriak “papa” hahaha. Menurut info yang gue dapat, orang Korea memang paling senang datang ke Filipina, diantaranya mereka juga untuk belajar bahasa Inggris disini.

Rencananya kami dari Clark langsung menuju ke Manila untuk penerbangan besok pagi menuju ke kota Puerto Princesa di pulau Palawan. Kenapa harus ke Manila ga lewat Clark aja? Iya. karena kami naik Cebu Pasific airlines dan itu hanya berangkat dari bandara di Manila. Clark – Manila sendiri ditempuh selama 1 jam saja (kalo ga macet). Karena kami tiba di Clark sudah jam setengah satu dini hari, rada khawatir juga dengan transportasi ke Manila. Setelah melewati bagian bea cukai nya (tas mesti kita buka sendiri untuk diperiksa), menuju pintu keluar dan jreng jreng jreng, mata yang ngantuk tiba-tiba langsung melek begitu melihat ada satu counter bis masih buka menjual keberangkatan terakhir jam setengah 2 pagi menuju Pasay City, Manila. Horeeee, jejingkrakan ga karuan trus guling-guling di lantai bandara, kenyataannya ga sesuai tulisan si hahaha. Harga tiket bis Philtranco php 450 per orang (kurs peso (php) = 380-400 rupiah)

 image

image

image

Bis ini lumayan nyaman, dan dilengkapi sebuah toilet yg cukup bersih terletak di bagian tengah sebelah kanan. Penumpang sampai jam keberangkatan tidak sampai 10 orang termasuk kami. Karena sepi, jadinya bisa milih tempat duduk meskipun sudah ada nomor tempat duduk di tiket. Laju bis lancar dengan pemandangan gelap di kanan kiri, seperti tanah lapang yang luas. Lagu-lagu galau jama baheula mengalun lembut membuat dini hari makin galau. Tidakkkkk, masa iya galau di negara orang….

Satu jam berlalu, sampailah kami di terminal tempat bis ini berhenti. Sebenarnya ini lebih seperti terminal pribadi bis Philtanco tersebut. Seperti halnya bis yang lain juga mempunya terminal sendiri-sendiri. Fyi, jam segitu masih banyak taksi yang berkeliaran mencari penumpang di luar terminal. Kami pun ditawarin taksi menuju bandara manila, harga tembak  sekitar php 200. Sempat ditanya domestic atau internasional sama sopirnya, tanpa banyak cingcong langsung bilang bandara internasional. Don’t you know, ternyata bandara internasional dan domestic itu beda tempat. Kami kira namanya bandara internasional ya udah cakup yang domestic juga macam bandara Soetta gitu.

Akhirnya kami bertanya sama satpam disana cara untuk menuju ke bandara domestic. Ada 3 option si, naik shuttle bus (baru buka jam 7 pagi), naik jeepney (tapi ga ngerti jalurnya, tar malah muter-muter ga jelas lagi), naik taksi (yang paling pasti). Karena kami ngejar waktu keberangkatan jam 8 pagi, seorang satpam bandara dengan baik hati tanpa kami minta memanggilkan taksi bandara dan ini taksi pake argo habis sekitar php 350. Menurut kami jarak dari terminal internasional ke bandara domestic ini lebih dekat daripada terminal bis ke bandara internasional, dan taksi nya pake argo tapi malah lebih mahal dari yang pertama. Damn. Gue sempat ga percaya dan masih sempet mlongo dan ga rela duit yang lumayan itu cuma buat bayar taksi.

Sampai di bandara Manila kami segera cek in, karena disediain web cek in dang a pengen antri ribet, akhirnya memutuskan untuk web cek in..srettt..srettt…tiket pun keluar dari mesin. Kami pun akhirnya masuk ruangan cek in manual dan ketika akan masuk ruangan setelah cek in ternyata bagasi kabin kita harus ditimbang dan maksimal 7 kg. Whatttt???? Persyaratan ini ga dibaca di tiket, alhasil bagasi mba wati dan anggun yang melebihi 7 kg harus masuk bagasi. Sementara bagasi gw aman masuk kabin karena pas 7 kg. Lumayan mahal juga euy untuk setiap kelebihan dipatok php 450 setara 200 ribuan lah. Tip ni, klo ada ipad, tab, laptop or jaket di tas, keluarin aja, karena itu cuma berat-beratin timbangan aja, yep that’s what i”ve done hehehe…

image

image

image

Kami pun akhirnya masuk dan waktu keberangkatan masih 2 jam, akhirnya kami mencari tempat di lantai 2 untuk istirahat dulu. Ada beberapa traveler juga yang tidur nyenyak ngemper di lantai bandara. Kami pun akhirnya nemu juga tempat yang lumayan nyaman untuk istirahat sejenak dengan pemandangan tempat cek in. Di lantai 2 ini terdapat juga food court kalo ingin sekedar ingin makan atau ngopi.

Tibalah waktu kami untuk boarding dan ruangan boarding ini kecil saja tapi memanjang. Alhasil penumpang yang membludak itu penuh berada di ruangan tersebut. Udah kayak ikan pepes diasinin dah, tumplek blek. Disini cuma ada 4 bangku memanjang saling berhadapan namun tiap gate terdapat toilet masing-masing yang cukup besar, bersih dan nyaman. Dan akhirnya tibalah waktu kami untuk terbang menuju Puerto Rico selama 1,5 jam.

Fyi Puerto Princesa ini adalah sebuah kota (kecil) yang berada di Pulau Palawan, letaknya di Filipina bagian selatan dan dekat sekali dengan Sabah Malaysia. Memiliki potensi wisata alam yang luar biasa dan alam yang mirip dengan indonesia.

Yep, terbang dulu yaaaa………

Puerto Princesa Underground River merupakan New 7 Wonders yang berasal dari Philippines. Terletak di kota Sabang, Pulau Palawan, sekitar 2 jam perjalanan dari kota Puerto Princesa. Gua ini memiliki kekayaan ornamen batu-batuan yang unik dan berusia ratusan tahun. Setiap pengunjung hanya diperbolehkan masuk sampai kedalaman 1,5 km.

Puerto Princesa Underground River merupakan New 7 Wonders yang berasal dari Philippines. Terletak di kota Sabang, Pulau Palawan, sekitar 2 jam perjalanan dari kota Puerto Princesa. Gua ini memiliki kekayaan ornamen batu-batuan yang unik dan berusia ratusan tahun. Setiap pengunjung hanya diperbolehkan masuk sampai kedalaman 1,5 km.

El Nido salah satu kawasan wisata kepulauan di ujung utara pulau palawan, philipines. Merupakan salah destinasi wisata utama yang sangat terkenal dan bisa dikatakan menjadi Raja Ampatnya Philipines.

El Nido salah satu kawasan wisata kepulauan di ujung utara pulau palawan, philipines. Merupakan salah destinasi wisata utama yang sangat terkenal dan bisa dikatakan menjadi Raja Ampatnya Philipines.

Honda Bay, salah satu kawasan wisata pantai di Pulau Palawan, Philipines. Perairan yang jernih, langit yang biru dan hoping island menjadi daya tarik utama dari Honda Bay.

Honda Bay, salah satu kawasan wisata pantai di Pulau Palawan, Philipines. Perairan yang jernih, langit yang biru dan hoping island menjadi daya tarik utama dari Honda Bay.

Kalau membayangkan jalan-jalan di Jakarta, kira-kira apa yang yang ada dibayangan kalian? Ragunan, Monumen Nasional, TMII, Ancol Dufan atau Mall yang keberadaannya banyak tersebar di seantero Jakarta. Namun bukan tempat-tempat itu yang jadi tujuan saya, saya akan membawa kalian untuk jalan-jalan sambil belajar ke tempat-tempat yang kaya akan nilai historikal bagi Jakarta.

Banyak sekali sebenarnya tempat bersejarah dan merupakan warisan budaya di Jakarta. Mulai dari museum, bangunan-bangunan tua, kawasan pecinan dan bahkan kompleks pemakaman. Namun sayangnya belum begitu banyak yang menaruh minat untuk mengunjunginya. Seringkali mereka yang tergabung dalam komunitas tertentu seperti halnya fotografi yang sering mengunjunginya. Kenapa kita tidak mulai untuk mengenal dan belajar tentang sejarah dan budaya di kota ini dari sekarang, sebelum justru kita mengetahuinya dari orang asing yang notabene lebih sering mengunjunginya.

Salah satu contoh warisan budaya di ibu kota adalah kawasan kota tua. Nah siapa yang tak kenal dengan kawasan ini, saya pernah tergila-gila dengan kawasan yang satu ini. Setiap bulan 2 kali atau bahkan 3 kali di tiap akhir pekan saya gunakan untuk mengunjungi kawasan ini. Kalau boleh saya bilang, ada sesuatu disana yang membuat saya selalu tertarik untuk datang lagi dan lagi.

Disebutkan dalam harian surat kabar di tahun 2013 Wakil Gubernur DKI Jakarta Bapak Basuki mempunyai rencana untuk merevitalisasi kawasan kota tua menjadi satu kawasan yang tertata dan bernilai jual tinggi. Hal ini tentunya harus didukung, mengingat saat ini kawasan kota tua selalu penuh dengan penjual kaki lima, dan membuat pengunjung kurang bisa menikmati suasana kota tua. Dengan rencana revitalisasi dan relokasi ini diharapkan kawasan kota tua menjadi kawasan yang membuat orang yang berkunjung kesana semakin menikmati Jakarta dan bisa menjadi salah satu ikon Jakarta.

Untuk lebih mengenal apa saja yang ada di kawasan kota tua dan tempat tempat bersejarah yang merupakan warisan budaya yang ada di Jakarta, yuk kita telusuri lebih jauh.  

Museum Fatahillah

Museum Fatahillah atau dikenal juga sebagai Museum Sejarah Jakarta menjadi landmark kota tua. Di dalam museum ini dapat kita temui antara lain perjalanan sejarah Jakarta, peninggalan arkeologi berupa batu-batu prasasti, keramik-keramik kuno cina, gerabah-gerabah, mebel-mebel antik dan replika peninggalan jaman tarumanegara dan pajajaran. Di bagian depan bangunan terdapat meriam si jagur, bagian bawah bangunan terdapat penjara bawah tanah dan bagian belakang berdiri patung dewa hermes yang tadinya berada di perempatan harmoni.

Museum Wayang

Museum wayang terakhir ini telah mengalami perombakan bagian dalamnya menjadi semakin tertata rapi, bersih dan terang, sehingga berkesan lebih ceria. Ada banyak jenis wayang dari seluruh Indonesia yang bisa kita temui disini, seperti wayang kulit, wayang golek, wayang kardus bahkan boneka unyil pun ada. Selain itu kita juga bisa mengenal wayang-wayang yang berasal dari luar negeri, seperti Thailand, Suriname, Tiongkok, Vietnam, India dan Kolombia.+

Museum Keramik

Disini kita bisa mengenal dan belajar banyak jenis-jenis keramik. Bahkan kalau mau belajar membuat keramik juga bisa langsung berkoordinator dengan pengelola museum ini.

Museum Bank Indonesia

Bagian dalam museum Bank Indonesia ini berkesan futuristik. Berbagai macam jenis uang logam dan kertas Indonesia dari masa ke masa tersimpan rapi disini. Koleksi mata uang dari Negara luar pun juga ada. Di dalamnya kita juga bisa mengetahui sejarah perkembangan uang rupiah dan berbagai diorama.

Museum Bank Mandiri

 Letak museum bank mandiri berada persis disebelah museum bank Indonesia. Kita bisa mengenal berbagai macam perlengkapan perbankan tempo dulu, surat-surat berharga, manekin dengan seragam perbankan tempo dulu dan brankas di bagian bawah tanah bangunan. Museum bank mandiri ini juga sering menjadi tempat penyelenggaraan berbagai pameran dan acara komunitas-komunitas.

Jembatan Kota Intan

Jembatan berwarna merah ini melintas di atas kali besar. Dahulunya kali besar merupakan bagian kanal yang menghubungkan kota Batavia dengan pelabuhan sunda kelapa, sehingga ada pengungkit untuk menaik turunkan jembatan agar kapal bisa melewati jembatan.

Café Batavia

Café ini masih berada di kawasan kota lama. Disini kita dapat menikmati kuliner ala meneer belanda dengan view kota lama. Meskipun harga yang ditawarkan cukup mahal, tapi tak ada salahnya kita mampir untuk menikmati suasana tempo dulu dengan nuansa dekor colonial di setiap sudut ruangannya, dapat dipastikan kita akan betah berlama-lama disini.

Museum Nasional

Museum nasional republik Indonesia atau sering disebut juga museum gajah ini terletak di jalan medan merdeka barat berseberangan dengan monumen nasional (monas). Di dalamnya dapat kita temui berbagai macam arca-arca, diorama manusia purba, replika berbagai budaya dari seluruh wilayah di Indonesia, prasasti bahkan fosil manusia purba. Museum nasional ini termasuk tempat studi warisan budaya Indonesia yang cukup lengkap untuk belajar tentang Indonesia.

Musem Tekstil

Terletak di Petamburan, Tanah Abang, mempunyai koleksi kain-kain dari seluruh propinsi di Indonesia. Disini kita bisa mengenal berbagai jenis kain batik, kain songket, kain sumba dan masih banyak lagi. Lebih serunya lagi, kita bisa belajar membatik disini dengan corak yang bisa kita pilih sendiri dan diajarkan proses pewarnaan dan proses jadinya. Hasil batik yang kita buat bisa kita bawa pulang untuk kenang-kenangan.

Museum Taman Prasasti

Museum ini merupakan kompleks pemakaman bernama kebon jahe kober peninggalan jaman kolonioal belanda. Koleksi utamanya adalah prasasti-prasasti nisan kuno bergaya Belanda (Eropa). Disini kita juga bisa menemukan nisan milik tokoh muda Indonesia jaman dulu, Soe Hok Gie. Yang tidak kalah menarik terdapat sebuah kereta jenazah antik yang terparkir di dalamnya. Buat yang gemar fotografi, ini salah satu tempat yang seru untuk mengasah menambah koleksi foto.

Pecinan

Di kawasan glodok dapat kita jumpai kawasan yang sangat kental aroma pecinan. Akan lebih terlihat sangat semarak di waktu perayaan Imlek tiba, Kelenteng-kelenteng berhias diri dan jalanan penuh dengan lampion-lampion berwarna merah. Kita yang masyarakat awam pun boleh menikmati semaraknya perayaan tahun baru China ini di Kelenteng-kelenteng, salah satunya Petak 9. Di kawasan ini pula bisa kita temui berbagai permen aneka rasa khas pecinan.

Itu tadi beberapa tempat yang merupakan warisan budaya di Jakarta yang menarik untuk dikunjungi dan untuk belajar sejarah dan budaya. Nah, tunggu apa lagi, mari kita menjelajah budaya di Jakarta dan menikmati kota Jakarta melalui budayanya. Apalagi lokasinya pun cukup berdekatan satu sama lain. Kalau bukan kita, siapa lagi.

Legon Pari beach, Sawarna in the morning, beautiful but mysterious

Sawarna beach taken from the hill

Hari ini aku telah bersiap diri dan dari semalam sudah packing apa-apa yang aku perlukan dalam perjalananku nanti. Tak banyak,yang ku bawa hanya beberapa potong pakaian dan kamera saja. Jadi rencananya setelah pulang kantor aku akan langsung memulai perjalananku yang aku sebut nine eleven #911. Sebenarnya ini hanya sebuah istilah saja untuk menyebut hari ini tanggal 9 November yang jadi tanggal aku muncul pertama kali untuk melihat dan bernapas di dunia ini. Jadinya sebenarnya aku ini agen 911 hehe…

Jam 5 teng, sepatu kerja pun aku ganti dengan sandal gunung, dengan memanggul backpack yang berukuran sedang ku laju tukang ojek menuju stasiun Juanda. Orang-orang pekerja pun terlihat ramai mengantri tiket commuter line dengan berbagai jurusan. Sementara itu tiket commuter line juanda-bogor sudah ku dapat dengan harga 9 ribu keberangkatan 17.26.

Commuter line pun berangkat tepat waktu, orang-orang langsung berebut masuk ke dalam dan baiklah mari kita berdiri bersama-sama alias ga dapat tempat duduk hehe… Satu demi satu stasiun pun dilalui dan penumpang semakin lama semakin banyak, bahkan sampai berdesakan dan berhimpitan. Dalam hati aku cuma bisa bilang, oke guys aku tau sekarang rasanya ketika kalian pulang kantor naik commuter line, sesak napas rasanya lama-lama. Mulai stasiun depok baru penumpang pun banyak yang turun, gerbong pun lumayan memiliki ruang untuk bernapas. Satu jam perjalanan pun terlewati dan sampailah di stasiun akhir, Bogor.

Dari stasiun Bogor mampir minimarket untuk membeli sedikit cemilan  kemudian naik mikrolet 03 ke terminal baranangsiang dengan ongkos 2 ribu perak. Sampai di Terminal Baranangsiang sekitar jam setengah 8 kemudian naik naik bis MGI jurusan Bogor-Pelabuhan Ratu dengan membayar 25 ribu. Menurut info bis MGI ke palbuhan ratu ini terakhir keberangkatan jam 9 malam dan bis MGI yang pake AC terakhir berangkat jam 5 sore.

Perjalanan selama 4 jam tak juga membuatku ingin tidur, yang ada juga malah melek aja dengan hiburan para penjual yang masuk ke bis. Bahkan ada penjual salak pondoh yang konon katanya berasal dari desanya alm. Mbah Maridjan si juru kuncen merapi. Salaknya kecil-kecil, tadinya dia menawarkan 20 ribu dapat 20 buah salak. Kemudian dia tawarkan  25 buah dan terakhir-terakhir 20 ribu dapat 30 buah salak bahkan 35 buah. Salak jualannya pun ludes dibeli penumpang.

Sampai di terminal Pelabuhan Ratu jam setengah 12 malam. Sudah banyak ntukang ojek yang menawarkan diri untuk mengantar ke tujuan selanjutnya. Bahkan ada yang menawarkan mengantar ke tujuanku seharga 200 ribu. Karena bis ke arah Bayah baru ada esok aku memutuskan beristirahat dulu di terminal. Makan bihun goreng seharga 9 ribu udah dapat the tawar hangat lanjut nongkrong di warung kopi. Untungnya si bapak yang punya warung kopi baik banget, warungnya boleh untuk beristirahat sampe pagi. Alhasil melek deh ngopi sambil nonton tv meski sempat tertidur bentar trus melek lagi hehe…. Jam setengah 5 pagi minta dibuatkan mie rebus telur sama bapaknya. Setelah bayar kopi dan mie rebus 9 ribu, lalu ke mushola terminal untuk Subuhan dan untungnya musholanya sepi, numpang deh tidur sebentar sambil nunggu jam 7.

Begitu bangun, bersih-bersih diri di kamar mandi umum, kemudian melangkah pemberhentian bis yang tinggal ngesot karena memang masih dalam area terminal. Nanya sana sini dianjurkan naik elf menuju Bayah nanti turun di Cibarawak dan tinggal lanjutin naik ojek aja gitu. So, jadilah berangkat naik elf jam setengah 9 pagi melalui sepanjang pantai selatan Pelabuhan Ratu dan bukit-bukit yang menanjak. 2 jam lebih sampailah di pertigaan Cibarawak, turun elf dengan membayar 25 ribu dan dari sinilah terpampang jelas sebuah tulisan, Selamat Datang di Sawarna.

Kemudian dengan bantuan seorang warga yang rumahnya tepat berada persis di sisi gerbang masuk Sawarna, datanglah si bapak tukang ojeg. Dengan standar disana 25 ribu dia bersedia mengantar ke desa Sawarna dan boleh mampir-mampir dulu hehe… Karena dari sini dekat sekali ke Pantai Karang Taraje akhirnya mampir dulu kesana. Udara panas tak menyurutkan niat untuk menikmati pantai ini. Pantai yang penuh karang-karang ini dan deburan ombak yang besar sungguh mempesona. Karang-karang dengan ukiran-ukiran dari alam yang unik dan kalau dilihat karang-karang disini membentuk seperti tangga. Karena itulah pantai ini disebut karang taraje yang berarti tangga dalam bahasa setempat.

Sekitar jam 12an, melanjutkan perjalanan ke desa sawarna. Setengah jam perjalanan kesana melewati sebuah pantai bernama pantai pulo manuk dan hutan yang menghijau. Sampailah di desa sawarna, melewati jembatan kayu yang menjadi ciri khas desa ini. Dan penginapan Widi milik Pak Ade yang telah dipesan sebelumnya menjadi tujuan terakhirku.

Penginapan milik Pak Ade ini kamarnya cukup besar dengan kasur yang luas cukup untuk 7 orang dan dilengkapi kamar mandi dalam dan kipas angin. Tarifnya cukup terjangkau 125 ribu per malam sudah termasuk makan 3x sehari.

Setelah beristirahat sebentar dan dilanjut makan siang yang telah disediakan Bu Ade, penjelajahan sawarna pun dimulai. Penginapan milik Pak Ade ini terbilang cukup dekat dengan pantai. Tinggal jalan 10 menit saja kita sudah sampai di Pantai Sawarna. Ketika sampai di pantai terlihat banyak sekali gubug-gubug yang masih terbilang baru bangunannya. Banyaknya gubug-gubug warung ini seakan sedikit mengganggu pemandangan kalo boleh aku bilang karena letaknya yang kurang tertib.

Dari Pantai Sawarna melipir ke sebelah di Pantai Ciantir. Tadinya mau lihat-lihat gua yang banyak tersebar di sekitar pantai ciantir namun karena ombak tiba-tiba pasang, niat pun diurungkan. Ngeri euy ombaknya. Yang hobby surfing pasti menyukai ombak disini. Akhirnya menyusuri pantai ciantir menuju ke pantai sawarna dan berakhir di pantai Tanjung Layar.

Ketiga pantai ini memang terletak dalam satu jalur. Hanya saja karakter pantai tanjung layar berkarang-karang. Dan yang menjadi ikon di Sawarna ini berada di tanjung layar ini, berupa 2 buah karang raksasa berdiri kokoh agak menjorok ke pantai yang membentuk sepeti layar kapal.

Niat tadinya mau berburu sunset disini, eh lagi-lagi agak gagal. Yang tadinya lumayan cerah eh begitu memasuki waktu matahari tenggelam, awan menutupi langit keseluruhan. Dan tak berapa lama awan hitam pun bergulungdari langit timur menuju ke barat, petir pun mulai ambil suara pertanda akan hujan.

Sebagian pengunjung pun mulai meninggalkan pantai. Warung-warung di sekitar pantai mulai menyalakan lampu karena gelap mulai merayap dan beberapa warung lebih memilih untuk tutup. Rasanya seperti akan terjadi badai. Ombak bergulung-gulung semakin besar dan memecah sempurna di pagar-pagar karang disisi tanjung layar. Rasanya betah sekali melihat pemandangan seperti ini. Tapi karena ngeri juga takut malah kejebak hujan dan tak bisa pulang, jadilah akhirnya kembali ke penginapan. Dan ternyata sampai malam pun hujan tak jadi turun sodara-sodara.



Esok paginya hunting sunrise ke legon pari. Jam setengah 6 mulai perjalanan berbekal senter pinjaman dan petunjuk arah dari Pak Ade. Kembali ke tanjung layar, disana rame orang-orang yang beristirahat disana. Di ujung tanjung layar ini ada tangga menuju ke atas bukit untuk menuju ke legon pari. Ada jalan setapak di atas bukit dan kita tinggal ikut saja jalan itu. Memang ada cabangan tapi ikuti saja yang paling jelas karena jalan-jalan setapak itu nanti juga akan menyatu dan semua akan mengarah ke legon pari.

Lumayan jauh juga, mesti menyusuri pantai dan treking naik bukit menuju kesana. Akhirnya sampai juga di legon pari. Sunrise di legon pari pun hampir gagal dikarenakan awan mendung. Beruntung matahari masih mau menampakkan sinarnya walau tak sempurna.

Legon Pari ini berupa pantai berbentuk cekungan menyerupai laguna dengan pasir putih. Disisi kiri dan kanan pantai berupa karang-karang terjal dan besar. Ombak disini pun besar dan cukup ganas. Jadi teringat cerita teman yang jatuh dari karang terkena ombak di legon pari ini. Makanya rada berhati-hati juga untuk mendekati ombak disini.

Ada beberapa warung di sekitar pantai yang bisa kita singgahi untuk sekedar makan mie rebus dan teh hangat. Cukup nikmat ditambah dengan gorengan bakwan dengan suguhan view pantai di depan. Duduk dibalai-balai bambu warung yang cukup luas berhembus semilir angin yang sepoi-sepoi, rasanya setelah makan jadi ngantuk dan pengen tidur, tinggal taruh bantal saja hehe…

Kembali ke sawarna naik bukit mencoba jalan lain dan  menemukan point view yang bagus sekali untuk menikmati pantai sawarna dari atas bukit. Beruntung sekali saat sampai di pantai sawarna cuaca cerah sekali. Langit biru tanpa awan dan rasa ya panas sekali. Tiba di pantai sawarna dalam keadaan cuaca sangat cerah dan tak ada salahnya untuk mampir sejenak di warung tepi pantai menyeruput kelapa hijau dan fanta merah sambil menikmati suasana pantai. Rasanya damai sekali, hampir satu jam lamanya duduk disini sembari ditemani kudapan berupa potongan mangga yang manis rasanya yang dijual di warung.

Satu jam yang sempurna, cuaca cerah, langit biru, pantai yang indah, pasir putih, suasana tenang, kelapa hijau, fanta merah dingin dan potongan mangga manis yang dingin. Cukup merogoh kocek sekitar 20 ribu saja semua bisa dinikmati.

Kembali ke penginapan untuk bersih-bersih, packing, makan dan pamitan sama pak Ade dan Bu Ade. Untuk balik Pak Ade menyarankan naik ojeg dulu ke Ciawi, dari Ciawi banyak elf yang menuju ke pelabuhan ratu katanya. Karena kalo bis dari sawarna sendiri hanya berangkat satu kali jam yaitu jam 7 pagi.

Jam setengah 2 siang dengan ojeg suruhan pak Ade berangkatlah menuju Ciawi selama 35 menit dengan kecepatan maksimal dan jalanan yang berkelak-kelok dan kadang rusak. Pantat rasanya sudah mati rasa dan tangan tak berhenti untuk berpegangan erat hehe…Tukang ojegnya pun rasanya sangat menguasai medan dan lihai sekali dengan motornya. Tarif ke Ciawi 25 ribu.

Jam 3 kurang baru mendapatkan elf jurusan Cisolok-Pelabuhan Ratu dengan tarif 15 ribu dan sampai di pelabuhan ratu jam 4an. Cukup dekat waktu tempuh pulangnya daripada ketika menuju ke Sawarna.

Dari Pelabuhan Ratu lalu naik bis MGI jam 5 sore. Sesuai info, bis MGI jurusan pelabuhan ratu-bogor keberangkatan terakhir jam 5 sore, tarif sama 25 ribu perak.  Sampai di Bogor jam 8 malam lanjut naik mikrolet 03 turun si stasiun bogor dan selanjutnya naik commuter line terakhir jam 9 tujuan Bogor-Kota tiket harga 9 ribu. Turun di stasiun Manggarai lanjut naik busway 3.500 turun di Pasar Genjing. Alhasil sampai rumah jam 11 malam.

Berakhir sudah perjalanan nine eleven ku, semuanya indah dan berkesan. Sawarna memang tak ada matinya, dalam keadaan apapun, cuaca apapun, dia tetap indah.


Hari berikutnya petualangan dilanjutkan ke ubud. Tapi kami mampir dulu buat sarapan di nasi ayam bu mangku di kawasan ubud. Nasi ayam ini lengkap lho, ada suir-suiran ayam, ada potongan hati ayam goreng, kulit ayam goreng, ayam betutu , kacang tanah goreng, sayur oseng dan ada sate ayamnya juga, khas masakan bali. Enak pokoknya, mak joss bener , tapi hati-hati karena cukup pedas.

Kawasan ubud ini terkenal dengan pasar seninya, disepanjang jalan banyak sekali toko-toko yang menjual barang-barang seni seperti kerajinan dan lukisan. Museum Antonio blanco juga ada di ubud lho. Bagi para pecinta seni, ubudlah surganya.

Ubud kawasannya juga adem, banyak pohon-pohon rindang disini. Dan berbicara mengenai pohon-pohon, ada hubunganya dengan tujuan petualang kali ini, yaitu ke monkey forest alias hutannya para kera/monyet. Tempat ini sangat dekat dengan pasar seni , jadi begitu kita capek keliling pasar seni langsung bisa istirahat dan ngadem di monkey forest ini ato sebaliknya.

Seperti namanya, tentu saja ini adalah hutan wisata yang pastinya dihuni oleh para kera-kera, apakah anda termasuk,mmm….tentu tidak ya hehe…Tiket masuk sebesar 15 ribu rupiah dan kita bisa membeli dulu pisang yang dijual di pintu masuk untuk nantinya diberikan ke para kera itu. Tapi harus hati-hati karena kera-kera disini jauh lebih galak dan aktif daripada yang di uluwatu. Jangan sekali-sekali menggoda ato mengganggunya atau mencoba menyembunyikan sesuatu karena secara refleks mereka akan mengejar kita (karena aku mengalaminya sendiri huhuhu…). Karena itulah gunanya dipasang papan larangan hehehe…..

Selain menjumpai kera dimana-mana, masuk ke dalam hutan wisata ini ada sungai kecil, kolam ikan, patung komodo, tangga naga dan tentu saja pura. Seperti halnya di uluwatu, masuk ke pura ini pun juga diwajibkan memakai kain dan tali bagi yang memakai celana pendek. Betul-betul magis terasa dengan adanya sesaji dan dupa yang dipasang di beberapa titik tempat.. Tak lupa mengabadikan moment di pura dengan memakai bunga jepun warna semburat kuning ditengahnya. Tetep ya narsis hehe…

Sore hari waktunya berburu oleh-oleh. Pertama ke Airlangga 2, tapi akhirnya gak beli apa-apa. Diteruskan ke Joger, lumayan memborong beberapa meski sebagian besar titipan. Kemudian ke Krisna (sama seperti airlangga juga tapi di kawasan renon). Nah karena disini yang saya cari ada makanya saya beli beberapa barang, dari celana, kaos, dan lukisan. Selesai belanja, sebelum pulang jalan-jalan dulu keliling kota Renon yang merupakan kota administratif di Bali ini, disana bisa dijumpai lapangan Niti Mandala Renon yang ditengahnya berdiri macam candi besar dan tinggi, tiap sore banyak dijumpai warga Renon dan sekitarnya berolah raga, jalan sore ato kegiatan lainnya. Ingin rasanya ikut bergabung.

Hari berikutnya, pagi-pagi benar perjalanan diteruskan ke pantai petitenget di wilayah kerobokan. Pantai ini sejajar dengan pantai kuta dan jimbaran. Di kawasan ini juga berdiri banyak sekali resort mewah. Bule-bule banyak yang memanfaatkan pagi hari untuk jogging ataupun sekedar jalan pagi menyusuri pantai sambil membawa anjing peliharaan mereka. Dan pagi itu gerimis kecil pun turun di pantai petitenget, menambah segar aroma pagi.

Menjelang siang kami kembali menuju ke nusa dua karena di hari sebelumnya merasa belum puas. Mungkin karena siang dan bukan hari libur jadinya siang itu pantai terasa sepi, panas pun cukup bisa membuat ciut nyali untuk sekedar berjalan di tepian pantai.Akhirnya hanya jalan-jalan dan menelusuri tempat-tempat yang belum dijelajahi dikawasan pantai dan menemukan tempat yang eksotik sekali di kawasan pulau dimana dibalik rimbunnya pepohonan dan semak terdapat hamparan karang yang meluas yang ditengahnya dibuat jalan dari kayu menuju ke tepi pantai, nama tempatnya water blow.Look so good.

Kami pun harus kembali untuk mempersiapkan segala sesuatu karena sore hari sudah harus kembali ke Jakarta.

(klik kata yang dibold warna untuk melihat foto)

Pagi ini saya ke bandara mengejar pesawat jam 6 menuju ke sebuah pulau bernama Bali. Garuda Indonesia airline ,saya memilihnya karena memang nyaman dan lebih safety. Sarapan omelet, sepotong sosis dan kentang cincang plus segelas susu, mmm…yummy ditambah senyuman pramugari yang menawarkan untuk tambah minuman. Dan keheningan pecah ketika pilot meneriakkan “para penumpang sekalian, di sebelah kanan anda dapat anda lihat gunung semeru yang sedang mengeluarkan asap”. Beruntung saya duduk di sebelah kanan, dekat jendela pula, bisa leluasa menikmati pemandangan diluar J

Sampailah saya di Bali satu setengah jam kemudian dan teman saya pun baru bangun ketika saya konfirmasi jemputan, padahal saya sudah mengingatkannya dari hari sebelumnya. Bener-bener khas orang Indonesia dengan jam karetnya hehe…

Ok, perjalanan pertama dimulai ke Uluwatu. Karena ini tempat suci bagi umat Hindu, untuk masuk ke dalam pura haruslah berpakaian sopan. Bagi yang memakai celana pendek, diharuskan memakai kain dan tali berwarna kuning yang sudah disediakan. Dan peraturan yang tak kalah untuk diperhatikan adalah dilarang memakai kaca mata, topi, dan asesoris lainnya, simpan semua itu karena ada banyak “nenek moyang” tinggal disana alias para kera-kera

Pura ini berdiri ditepi jurang,dimana di kanan dan kirinya menjulur jalan di tepi jurang yang memanjang. Yang menambah eksotik tempat ini bila kita lihat ke bawah ombak laut nya berwarna biru cerah sewarna kristal, bening sekali, juara banget. Di hutan sekitarnya dapat juga ditemui bunga bangkai, tapi ini beda dengan raflesia arnoldi.. Jangan lupa juga siapkan air minum karena udara disini cukup panas, banyaknya pohon disini pun tak cukup membantu.

Destinasi selanjutnya pantai dreamland. Disini malah lebih menyiksa lagi panasnya, apalagi pada siang hari bolong. Tata letaknya cukup menarik dengan adanya café-café tepi pantai mirip dengan yang ada di luar negeri (liat dari tipi sih hehe…). Di dreamland ini hampir 99% yang terlihat adalah bule, ada yang sedang berjemur maupun berselancar. Pengen si nyebur ke pantai atau maen selancar (halah..), Cuma panasnya sudah bikin kulit perih. Bisa dibilang yang bule cari panas, yang lokal cari aman, seperti saya kemaren yang memilih bersembunyi di bawah karang hehe….kagak nahan……

Tidak jauh dari dreamland, kita masuk kawasan Garuda Wisnu Kencana ato terkenal dengan sebutan GWK. Disini kebalikan dari pantai dreamland, di GWK lumayan adem dan penuh bule lokal, apalagi rombongan dari sekolah-sekolah. Di dalamnya terdapat sebuah galeri lukisan, naik ke atas terlihat patung wisnu setengah badan, di belakang patung wisnu agak ke bawah ada patung garuda dengan setengah badan pula. Dari depan patung garuda lurus ke bawah arah tangga jauh terdapat sebuah patung perdamaian dan di bawah patung perdamaian tersimpan patung tangan wisnu. Kasian ya wisnu, badan sama tangan terpisah, apa gak sakit ya (halah, dibahas). Tempat ini menurut saya sangat eksotik, dibuat dari hasil pembelahan bukit kapur, betul-betul menakjubkan.

Nah, ini dia yang ditunggu, lunch time. di dekat pintu masuk GWK ada warung makan yang menyediakan makanan serba tuna. Satu porsi makan anda sudah mendapat 1 pepes ikan tuna, beberapa tusuk sate ikan tuna dan baso ikan tuna dengan kuah soto, plus ada sambal cabe ulek kasar, bener-bener double yummy. Harganya pun sangat terjangkau baik bagi mahasiswa, backpacker ataupun umum.

Perjalanan dilanjutkan ke Nusa Dua Bali. Ada beberapa resort mewah disini, tinggal pilih saja kalo mau menginap dikawasan ini (budget mesti banyak yah hehe…). Cantik, banyak pepohonan yang tumbuh, dan pasirnya putih. Jangan lupa untuk jelajah ke 2 pulau yang masih menyatu dengan pulau induk. Disini saya sempetin bwt mandi laut bersama para bule-bule dan turis lokal. Agak sedikit kotor dari daun-daun tanaman tapi tetap menmbuat saya enjoy, apalagi di sore hari menjelang matahari mulai menampakkan senjanya, pas banget.

Malam harinya hujan deras mengguyur, agak sedikit khawatir rencana dinner di resto di jimbaran batal. But, the show must go on, dan sampai di Jimbaran hujan tak turun setitik pun, Cuma mendung saja. Akhirnya kami pun masuk ke sebuah restoran dan memilih duduk di meja di luar ditepi pantai. Pesan ikan bakar, sup sea food dan sup asparagus. Sembari menunggu makanan datang kami pun ngupi2 dulu ditemani kacang kapri. Suasananya juara banget, viewnya pun juara, momentnya pun juara, malam ultah saya :p plus malam eksekusi Amrozi cs (gak bakal 2x khan ada moment bersamaan kayak gini hehe..). Moment yang tak ada duanya hehe…..Bicara view, meja di depan kami yang ditempati sepasang muda mudi bule, cukup membuat mata langsung bangun, adegan ciuman yang panjang dan lama itu (hahaha…), benar2 nyata dan jelas, bisa diliat dengan mata telanjang tanpa perlu alat bantu liat lagi hehehe…..

Akhirnya gerimis kecil pun jatuh di jimbaran, makin menyemarakkan suasana. Luar biasa cantiknya, dikelilingi ratusan lilin, ratusan orang di arah laut meski langit gelap namun seringkali kilat membuatnya lebih berwarna dan di arah bandara ngurah rai sesekali terlihat pesawat-pesawat yang take off maupun landing. Ditemani pula deburan ombak dan pengamen-pengamen resto dengan seragam putihnya mendendangkan lagu-lagu barat jadul. Sempurna.

Akhirnya kami pun beranjak dan menuju ke kawasan kuta dan legian. Dan disininlah kehidupan malam benar-benar terasa hidup di Bali. Tempat paling happening di Bali. Club-club pun ramai sekali seolah samasekali tak terpengaruh akan eksekusi pelaku bom bali 1 pada dinihari itu. Terlihat pula para penari perut di pintu masuk sebuah club sedang menunjukkan aksinya. Tentunya mata semua para lelaki akan tertuju padanya, dan hanya membuat mata semakin segar saja (:p). Namun karena besok pagi masih ada petualangan-petualangan baru, kami mengakhirinya sampai disitu dan memutuskan untuk pulang biar tetap bugar.

Perjalanan semalam , pagi hingga pagi lagi di bali, unforgettable moment for my own moment.

(klik kata yang dibold warna untuk melihat foto)

Sebenarnya perjalanan ini tahun lalu di bulan Desember. Mendapat tugas mengantar dokumen negara yang disebut DIPA ke kantor wilayah di Padang bersama 2 orang rekan, ibu (Lola) dan mbak (Risky). Awalnya aku gak tau klo dapat tugas dinas ke Padang, meski sebenarnya emang aku pengen dapat ke Padang, eh taunya beneran dapat. Alhamdulillah ya…

Menumpang pesawat Lion Air, kami pagi itu mendarat di bandara Minangkabau. Kami dijemput oleh pegawai Kanwil dan menuju ke kantor. Setelah bertemu beberapa orang penting di Kanwil (bukan sok penting tapi emang orang penting lho, pejabatnya gitu..) kami melaksanakan tugas kami menyerahkan DIPA. Cek…cek and ricek semuanya kelar dan beres. Kemudian kami pun berpamitan dan diantar menuju ke hotel (cepet banget ya hehehe).

Hotel Padang, ini dia hotel kami, bangunan depannya bangunan tua jaman Belanda tapi kamar-kamar di bagian belakangnya ada yang bangunan tua ada juga yang bangunan baru. Meski agak sedikit seram, bukan karena apa-apa, karena bangunan kanan kiri hotel rusak semua karena gempa Padang saat itu dan klo membayangkan korban-korbannya, widih, jd ngeri sendiri. Dan asli aku agak (kurang) bisa tidur euy hu..hu..hu…Bayangkan bangunan disebelah kanan dan kiri hotel sudah hancur, bahkan sudah ada yang diratakan. Apakah ada korbannya disana, entahlah tak mau lah diri ini membayangkannya.

Hari kedua, kami menuju ke Payakumbuh mengantar salah satu rekan, bu Lola, karena beliau ini orang asli Payakumbuh jadi sekalian pulang kampung ceritanya. Dengan diantar sopir kami pun berangkat. Waktu tempuh sekitar 5-6 jam melewati Padang Panjang, Bukittinggi dan Payakumbuh. Di Padang Panjang kami mampir makan siang di sate padang Mak Syukur yang terkenal itu. Di dinding bangunan tersebut tampak foto-foto Pak Beye beserta ibu. Konon katanya klo ke Padang Pak Beye (SBY) selalu makan disini.

Lanjut….Perjalanan dari Padang Panjang ke Bukittinggi. Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan alam yang luar biasa indah, bukit-bukit yang menghijau, air terjun, sungai dan ada rel kereta. Wait…rel kereta? Ya, dsini memang ada rel kereta, ini merupakan rel kereta wisata jurusan Padang ke Bukittinggi yang hanya beroperasi pas wiken saja. Tapi sayang karena gempa banyak rel yang tertimbun longsoran sehingga tidak dapat beroperasi.

Bukittinggi-Payakumbuh sebenarnya bisa ditempuh selama 1 jam saja, tapi karena saat itu hujan dan jalanan rusak jadi banyak jalan yang berkubang dan membuat sedikit terganggu. Dalam perjalanan menuju ke Koto Tuo tempat bu Lola melewati jalan kecil dan kami sempet bertemu dengan monyet yang dibonceng motor. Hehehe lucu ya…ternyata ini adalah monyet yang dilatih untuk memetik buah kelapa, bisa juga lho mereka disewakan. Di Payakumbuh ini penduduknya memang memanfaatkan tenaga monyet untuk memetik buah kelapa.

Kota Payakumbuh sendiri tidak terlalu rame, ya seperti kota kabupaten pada umumnya. Kabarnya Payakumbuh ini akan dijadikan ibu kota propinsi menggantikan kota Padang. Karena kontur geografi Payakumbuh yang rata dan tidak berbukit-bukit relatif aman dari bencana alam. Seiring berjalannya waktu dan rasa capek akhirnya sampailah kami ke rumah orang tua bu Lola.

Rumahnya asri, dikelilingi pohon-pohon besar, ada pohon sawo dan di bagian belakang penuh pohon kakao beberapa hektar. Beristirahat sejenak dan makan makanan khas Padang, Cuma aku lupa apa aja namanya tapi yang jelas ajib dah. Satu yang paling aku suka, ayam goreng cabe hijau, mantap. Tiba waktunya untuk berpamitan, tinggal kami berdua, bertiga dengan pak sopir melanjutkan ke Bukittinggi.

Di Bukittinggi kami mampir sebentar ke Ngarai Sianok, dan bener-bener terjun langsung ke sungai yang ada dibawah lembah, mengunjungi Jam Gadang tapi tidak sempat mampir ke pasar bawah dan atas meski letaknya cuma sebelahan ma Jam Gadang, karena kami mengejar waktu biar tidak terlalu malam sampai di Padang. Tapi dalam perjalanan kami mampir dulu beli oleh-oleh di salah satu toko souvenir. Puas..puas..puas….


Sampai di Padang jam 9 malam…makan nasi goreng..kembali ke hotel dan tidur…

Esok hari satu rekan, Risky, kembali ke Jakarta dan tinggal lah aku sendiri. Dengan berbekal pengetahuan dari internet, mulailah petualanganku, tapi hanya dibatasi sampe jam 12 saja karena jam 1 mesti take off kembali ke Jakarta. Tadinya berpikir mau naik ojeg untuk berkeliling kota, tapi akhirnya memilih taksi tentunya dengan penawaran yang cukup menarik. Dan dimulailah jalan-jalan aku ini.

Spot pertama melihat reruntuhan hotel ambacang dan beberapa bangunan yang runtuh. Bahkan ada hotel mewah dengan bangunan tinggi juga tak luput ikut rusak.

Taksi pun meluncur ke pantai padang. Pantainya luas dan terlihat di jalan aspal jejak-jejak gempa dimana banyak retakan. Sedang asik foto-foto, tiba-tiba temanku yang orang Padang BBM bilang klo ada gempa, tapi aku tak merasakannya, mungkin karena lagi di pasir jadinya tak terasa ada goncangan. Yasuw lah yang penting tak terjadi tsunami, coba klo terjadi tsunami dan diriku ikut terseret, tentunya tidak akan ada tulisan ini hehe…

Tujuan berikutnya ke Jembatan Siti Nurbaya, view dari sini benear-benar elok, bagus buat foto-foto dan tentunya aku gak melewatkan serta membiarkan kamera ku nganggur, jepret..jepret…jepret….pemandangannya mantap, disatu sisi terdapat kawasan kota lama dengan rumah-rumah jaman dulu dan disatu sisi arah pantai banyak sekali perahu-perahu nelayan. Menakjubkan.

Dari jembatan ini turun ke bawah sedikit sampailah kita ke toko Christine Hakim. Klo kamu berpikir ini toko milik Christine Hakim si artis itu tentu saja bukan, karena toko ini hanya menjual berbagai jenis oleh2 makanan dengan merk Christine Hakim. Merk ini terkenal sekali, karena itu orang klo berkunjung ke Padang belum lengkap klo tidak membeli oleh-oleh Christine Hakim ini.

Karena masih ada waktu sebelum berangkat ke bandara, aku coba basa-basi nanya ke sopir taksi ku, kira-kira klo ke pantai air berapa lama? Dia bilang setengah jam, so, aku beranikan diri ambil keputusan untuk kesana meski dalam hati ketar-ketir juga bisa gak tar kembali ke Padang jam 12an. Melewati bukit naik turun dan berkelak kelok akhirnya sampe juga akhirnya. Benar hanya setengah jam saja.

Oiya, pantai air manis itu pantai yang ada patung si malin kundang itu loh. Hari itu cukup sepi mungkin karena bukan wiken ya. Cuma ada aku, sopir taksiku dan beberapa orang pengunjung lain. Tampak beberapa pemuda dan anak-anak yang menawarkan foto-foto pantai air manis dan beberapa tukang foto. Gak lengkap dong klo tempat wisata gak ada penjualnya, disana pun ada penjual souvenir, pakaian dan jenis oleh-oleh lainnya.

Di pantai ini aku habiskan untuk melihat-lihat dan foto-foto pantai dan patung malin kundang dan kapalnya, ternyata beneran ada patung itu tapi mulai pada rusak bagian kapalnya disana-sini. Baru percaya klo kita melihat dengan mata dan kepala sendiri hehehe. Di seberang pantai ada 2 pulau yang menarik hati untuk dijelajahi. Pulau pisang besar dan pulau pisang kecil. Ku lihat jam tanganku, udah nunjuk jam 10, spontan aja bla..bla..bla dalam keadaan dag dig dug duer antara pengen ke pulau dan dikejar waktu perjalanan ke pulau pun dilalui dengan menyewa perahu penduduk setempat. Inilah petualangan yang sesungguhnya 15 menit dalam lautan sampailah kami ke pulau pisang besar. Menikmati pantainya sebentar dan foto-foto, benar-benar indah sekali, pantai biru, gugusan bukit yang hijau diseberang sana, rasanya terbayar rasa dag dig dug duernya dan kami pun akhirnya kembali ke seberang. Dalam perjalanan ke seberang inilah pertunjukan alam yang menakjubkan lainnya muncul, lumba-lumba, so amazing. Gak salah keputusanku untuk menyeberang pulau tadi, meski ini bener-bener keputusan gila.

Jam 11 tepat kami meluncur kembali ke hotel. Sampai di hotel sopir dari kantor yang akan mengantar ke bandara sudah menunggu, tanpa menunggu lama, aku packing seadanya saja. Ceck out hotel trus ke bandara. Untung gak begitu macet siang itu jadi bisa cepat sampai di bandara sekitar jam 12an lebih. Seru, menegangkan dan ngos-ngosan. Masih dalam keadaan bau pantai air manis dan pasir pantai pun masih tampak jelas menempel di sandal serta muka yang kusut, jam 13.00 aku pun terbang kembali ke Jakarta.

*sayang sekali file foto-foto di Padang ini hilang, jadi tak bisa ditampilkan :(