A TRAVELER WITH GREAT ADVENTURES EXPLORING MOUNTAINS, BEACHES AND CULTURES

MY KAFE WRITER

Ajaib Hidup Ini.
Sebuah dunia untuk setiap perjalanan mengandung setiap langkah, setiap tarikan dan hembusan napas, setiap denyut nadi, setiap denyut jantung, setiap tetes keringat, ada makna, ada proses, ada pembelajaran, ada spiritualitas, ada senyuman, ada tangisan dan ada cerita
Recent Tweets @aarievo
Who I Follow

Secuil Keindahan Surga yang bisa dinikmati di Tanjung Aan, Lombok. Nikmati pasir berbentuk bulat mericanya yang unik dan birunya pantai yang tak akan pernah membuat bosan mata untuk memandang

Jalur trek terakhir menjelang puncak Rinjani. Dan kamu ditantang untuk sampai ke puncak, berani?

Salah satu curug yang cukup terkenal di Jawa Barat adalah Curug Malela. Curug Malela atau disebut juga Niagara mini ala Indonesia terletak di  Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga  Kabupaten Bandung Barat. Dari Jakarta bisa ditempuh selama 7 jam perjalanan belum termasuk macet kalo kesana pas wiken.

Menuju ke curug ini memang membutuhkan tenaga ekstra. Selepas pos akhir perhentian bus yang kami sewa, kami diharuskan melanjutkan perjalanan dengan naik ojek karena jalanan menuju ke curug ini sangat terjal dan berbatu selama kurang lebih 30-40 menit. Lumayan membuat (maaf) bokong panas dan tersiksa karena seringkali badan pun ikut terlonjak-lonjak. Tarif ojek menuju ke curug sebesar Rp. 50.000,- per orang untuk 2 kali perjalanan pergi dan pulang. Untuk yang membawa mobil pribadi bisa langsung menuju ke curug tanpa ojek asal mobilnya tangguh J

Namun perjuangan kita belum berakhir, karena setelah sampai di pintu masuk curug kita masih harus berjalan menuruni lembah selama 30 menit. Awalnya jalur trek menurun ini bagus karena sudah di buat jalan dari semen, kemudian melewati sawah dan jalan tanah yang kemungkinan besar kalau hujan akan becek dan licin. Apalagi jalur tanah ini cukup curam dan memiliki kemiringan 70-80 derajat. Namun menjelang sampai di curug akan ditemui tangga-tangga batu yang memudahkan untuk turun ke curug.


pepohonan pinus nampak menghiasi sebagian lembah bukit ke curug malela

curug malela terlihat dari atas bukit dan jalan setapak untuk menuju kesana


Sampailah kita di curug malela, curug dengan ketinggian sekitar 70 m dan lebar 100 m ini memang nampak megah. Aliran curug yang berasal dari lereng utara Gunung Kendeng ini mempunyai debit air sedang pada saat itu. Membuat kami cukup leluasa untuk bisa mendekat kea rah curug melewati batu-batu besar yang banyak tersebar di aliran bawah curug. Airnya yang bersih, segar dan dingin membuat rasa lelah dari perjalanan seperti hilang. Ditambah kawasan curug malela ini sangatlah hijau penuh dengan pepohonan menambah nuansa sejuk, tenang dan damai, sangat memanjakan mata.


Curuh Malela dan hijau alam sekitarnya

Kemegahan curug malela berhiaskan batu-batu besar disekitarnya

Aliran sungai curug malela sangat eksotis

Bersama travel mates

Namun sayang sekali pengunjung yang datang kesini kebanyakan kurang sadar akan kebersihan. Banyak sekali ditemukan sampah-sampah plastik di rongga-rongga batu. Ada baiknya pengelola curug malela ini lebih memperhatikan hal ini, karena sangat disayangkan alam yang masih alami ini harus rusak oleh sampah-sampah yang dibawa pengunjung. Dan sudah seharusnya pengunjung juga sadar lingkungan agar alam yang ada di Indonesia ini terjaga lestari dan semakin diminati untuk dijelajahi.

Pohon bunga klak yang mulai mengering dengan cabang-cabang yang mencakar langit seolah ingin menjamah Gunung Agung yang nampak dikejauhan

Aliran sungai dari Segara Anak berpadu mesra dengan alam yang hijau, langit yang biru dan para pemancing yang berburu keberuntungan. 

Kemegahan Gunung Rinjani berselimutkan padang savana yang menguning di bukit teletubis

DARI BADUY LUAR MENUJU KE BADUY DALAM. Sebelum trekking menuju baduy dalam, kita di briefing sebentar dan berdoa agar perjalanan kesana lancar dan aman.

Berkumpul, briefing, berdoa dan berfoto :)


Salah satu sudut kapung baduy luar dengan lumbung padinya

Tugu selamat datang di desa kanekes, baduy


Jembatan bambu yang direkatkan dengan tali


Melintasi jembatan bambu, menjadi pengalaman tersendiri




Keceriaan bersama orang baduy dalam


Alam raya kampung baduy, segar dan alami


Salah satu sudut alam baduy


Naik turun bukit menuju kampung baduy dalam


Nah, sampailah di batas antara baduy luar dan baduy luar. Ketika sudah masuk wilayah baduy dalam, kita dilarang sama sekali untuk mengambil foto apapun. Itu peraturan yang wajib dipatuhi. Apabila tidak dipatuhi, percaya atau tidak, kamera atau hape kita akan mengalami kerusakan (berdasarkan kisah nyata yang dituturkan guide kami). Hidup di baduy dalam juga dilarang keras memakai sabun, odol, sampo dan detergen. Itu untuk menjaga keaslian alam dan kebersihan mata air disana.

Di baduy dalam tidak terdapat listrik, namun tidak lantas gelap gulita, cahaya bintang dan bulan akan senantiasa menerangi kampung ini. Makanan sehari-hari adalah beras dan ikan asin serta sayuran dari kebun sendiri dengan alas daun pisang. Aktifitas sehari-hari masyarakat bertumpu pada pertanian dan sungai menjadi sumber kehidupan yang tak bisa lepas dari keseharian. mandi dan cuci semua dilakukan di sungai ini, air untukkebutuhan memasak pun diambil dari sungai.

Di baduy dalam terdapat beberapa lumbung padi untuk menyimpan hasil panen padi. Ini ditujukan apabila terjadi gagal panen, nah padi ini bisa untuk cadangan. Bisa juga untuk benih bertanam di musim tanam berikutnya.

Kampung baduy dalam ini dikepalai seorang kepala desa dan mempunyai seorang wakil. Di rumah wakil kepala desa inilah biasanya pengunjung yang datang kesana diarahkan untuk menginap. Rumahnya hanya terdiri dari 2 bagian, satu ruangan depan dibagi menjadi kamar tamu merangkap tempat tidur untuk tamu yang datang dan dapur disisi yang lain. Satu ruangan lagi merupakan kamar keluarga sang pemilik rumah.

Aktifitas yang bisa dilakukan disini adalah menjelajah kawasan sekitas kampung baduy dalam yang masih sangat asli, bercengkerama dengan masyarakat dan silaturahmi dengan kepala desa. Kebetulan waktu kesana sedang diadakan acara adat penghormatan terhadap angklung, saya sendiri lupa nama seremoninya. Yang jelas anak-anak kecil semua berkumpul dan memainkan musik dari angklung tersebut, tempatnya pun berpindah-pindah. Aura magis sungguh sangat terasa dan semakin berlapis dalam naungan sinar bulan purnama.

KEMBALI KE BADUY LUAR. Pagi-pagi sekali menjelang sunset kami kembali ke kampung baduy luar untuk mengunjungi pasar pagi yang hanya akan buka sampai pukul 8 pagi.

Menjelang matahari terbit dari tepi batas kampung baduy dalam-luar


Sunrise dengan bukit yang menjadi lahan pertanian masyarakat baduy


Kabut tipis seolah memberi kesan negeri diatas awan


Orang-orang baduy dalam yang menemani perjalanan kami


PASAR PAGI. Selain menjadi tempat jual beli, pasar pagi juga menjadi ajang silaturahmi masyarakat baduy dalam dan luar.

Ikan, sayuran dan menyediakan segala macam kebutuhan dapur


Ibu-ibu sedang menjajakan dagangannya


Suasana keramaian di pasar pagi


Seorang ibu dari baduy dalam sedang berbelanja peralatan masak


Mencicipi gorengan dan jajanan pasar


Penduduk baduy dalam kembali pulang setelah selesai berbelanja


Wajah-wajah ceria kami hehe..


BADUY LUAR. Setelah puas di pasar pagi, saatnya kami menjelajah lebih dalam perkampungan baduy luar lainnya.

Salah satu sudut kampung baduy luar


Seorang bapak sedang mengasuh anaknya di beranda rumah


Keluarga, so natural


Keceriaan anak-anak baduy luar, gemesin ya


gadis-gadis baduy luar sedang menumbuk padi


Numpang nampang bersama anak baduy luar

Kali ini gw ga akan banyak menulis tapi akan lebih banyak share foto-foto gw selama gw traveling ke Ujung Genteng. Ada banyak tempat menarik disana, air terjun, persawahan, pantai, penangkaran penyu, sunset dan lain-lain. Nah blog gw kali ini lebih ke photo story semua yang gw lakukan selama disana.

Ujung Genteng ini bisa ditempuh selama 6 jam perjalanan darat dari Jakarta dengan jarak 250 km atau dari Sukabumi ke arah selatan dengan jarak 70 km.Daerah ini memiliki banyak potensi alam yang masih cukup asri dan alami. Untuk berakhir pekan bersama keluarga atau teman-teman, datang kesini tidak akan pernah rugi.

Curug Cikaso memiliki tinggi sekitar 50 meter dan lebar tebing 100 meter. Debit air saat itu banyak karena musim hujan dan ketika sampai sana pun kami disambut hujan deras. untuk menuju ke curug ini kita harus naik perahu melewati aliran sungai curug.

CURUG CIKASO

Curug Cigangsa terletak 10 km dari Curug Cikaso atau sekitar setengah jam, memiliki tinggi sekitar 20 meter. Menuju ke curug ini kita melewati persawahan yang sangat indah, namun jalan menurunnya cukup curam, apalagi di musim hujan harus ekstra hati-hati melangkah jangan sampai terpeleset.

CURUG CIGANGSA

Setelah berlelah-lelah menjelajah curug, saatnya santai di pantai pangumbahan. Pantai Pangumbahan ini memiliki garis pantai sepanjang 3.000 meter dengan pasir halus dan tebal. Dan pantai ini termasuk private pantai karena belum banyak pengunjung. Karena merupakan tempat bertelurnya penyu dan penangkaran penyu, sehingga disepanjang pantai terdapat beberapa gardu pengawasan untuk mengecek penyu yang akan bertelur. 

PANTAI PANGUMBAHAN

Menjelajah pantai pangumbahan bersama Tere, Fara dan Claudia.

Kebetulan teman gw namanya Claudia pas lagi ulang tahun saat itu, jadilah kami bikin kejutan untuknya.

Sekarang saatnya kita melepas tukik dan menunggu sunset.

Setelah sunset kami pun kembali ke penginapan, bakar-bakar ikan dan malamnya dilanjut melihat penyu bertelur.

Pagi hari berikutnya berburu sunrise dan melihat pantai pangumbahan di sisi lainnya.

Perjalanan berlanjut ke Pantai Ujung Genteng dan Pantai Alamandaratu sebelum akhirnya kembali ke Jakarta.

PANTAI UJUNG GENTENG

PANTAI ALAMANDARATU

Perjalanan kali ini membawa kami menuju ke arah kota Ciamis, Jawa Barat. Bersama travelmate Mas Dwi, Mas Heri, Mas Aryo, Koko Rudy, Dinda dan Cory, kami akan mengeksplor alam Pangandaran dan sekitarnya. Di Pangandaran nanti kami akan bertemu teman kami Sisca atau lebih sering dipanggil Cici, yang sudah menunggu disana. Rencananya kami akan menginap di penginapan tempat pacarnya Cici, sebut aja koko Roy.

Berangkat Jumat malam dan sampai di Pangandaran Sabtu pagi. Suasana kawasan Pangandaran saat itu terbilang cukup ramai, mungkin karena weekend jadi banyak yang menghabiskan waktu berlibur kesana. Setelah sampai hotel, bagi kamar dan beres-beres plus sarapan, kami pun berangkat menuju tempat eksplorasi pertama, Green Canyon.

Cerita dikit ya, Green Canyon ini oleh penduduk setempat disebut Cukang Taneuh yang artinya jembatan tanah. Nama Green Canyon sendiri dipopulerkan oleh wisatawan asal Perancis yang terpukau dengan keindahan alam berupa aliran sungai Cijulang yang berwarna hijau dikelilingi tebing-tebing curam yang asri dengan pepohonan. Warna hijau air sungai ini sendiri berasal dari plankton atau organism renik sejenis alga yang hidup di aliran sungai Cijulang ini.

Ada 2 cara menuju ke Green Canyon ini. Yang pertama dari Dermaga Cisereuh (pintu utama), kita bisa menggunakan perahu sewaan yang banyak terdapat disana (ada loket penjualan tiket perahu). Dari dermaga kita akan menyusuri sungai sepanjang kurang lebih 3 km selama setengah jam menuju ke Green Canyon. Cara kedua menuju ke hulu sungai Cijulang, dari pos naik mobil pick up melalui jalanan terjal dan lumayan curam. Nah kami menggunakan cara kedua, karena tujuan kami kesini memang untuk melakukan hal yang cukup ekstrim, body rafting.

Setelah turun dari pickup, kami harus berjalan lebih dahulu melintasi perkebunan dan menuruni lembah untuk sampai ke hulu sungai. Di sekitar hulu sungai ini terdapat sebuah gua dengan mulut gua yang besar, namanya gua kelelawar karena banyak dihuni kelelawar. Tapi dimana-mana yang namanya gua selalu ada kelelawarnya bukan? Hehe…

Setelah semua siap dengan alat tempur masing-masing berupa pelampung, helm, sepatu khusus, alat pelindung kaki dan tentunya berdoa, kami pun mulai nyebur, byurrr…. Jangan lupa segala jenis kamera dan hape dimasukkan ke dry bag sebelum nyebur dan bisa dititipkan ke pemandunya. Karena aliran dihulu ini cenderung tenang sehingga cukup sehingga kami pun tidak bisa bergerak cepat. Kami pun disuruh ambil posisi saling berderet ke belakang seperti kereta dan pemandu berada di depan menarik kami agar kami bisa meluncur dengan cepat. Seru sekali dan tak henti-hentinya kami tertawa haha…

Pemandangan sepanjang aliran sungai sungguh menakjubkan. Dikelilingi tebing-tebing tinggi yang hijau dan batu-batu karang di kanan kiri sungai maupun di dalam sungai kami terus meluncur. Terkadang kami harus dibantu oleh guide untuk aliran yang menyempit dan kencang, tak jarang pula harus melompat dari batu yang agak tinggi. Hati-hati dengan batu karang yang ada di bawah sungai, bisa nyangkut nanti atau kaki kita terbentur. Bahkan disini tercipta ungkapan baru “ada batu tapi ga papa”, gara-garanya ketika mau lompat ada batu-batu disekitarnya. Jadi ketika nanya, gapapa nih ada batu? Yang udah lompat langsung aja bilang ada batu tapi gapapa hehe..

Selama hampir 4 jam kami menyusuri sungai, menikmati pemandangan sepanjang sungai yang indah, akhirnya kami sampai di gua Green Canyon. Pengunjung pun mulai ramai ketika berada disini. Di green canyon ini terdapat sebuah batu besar yang menempel pada dinding gua setinggi sekitar 8 meter yang berbentuk payung, karenanya dinamakan batu payung. Kita bisa menantang adrenalin dengan loncat dari atas batu ke bawah, ini yang menjadi favorit para pengunjung yang masih muda.

Setelah puas, kita bisa mengantri untuk naik kapal kembali menuju ke Dermaga Cisereuh. Alam sekitar sungai yang masih asri dan hijau menjadi pemandangan tersendiri. Melihat lalu lalang perahu dan terkadang saling sapa dengan penumpang perahu lain yang berlawanan arah pun menjadi aktivitas menyenangkan. Setelah sampai, kita bisa segera bilas badan dan berganti pakaian di kamar mandi umum.

Selesai dari Green canyon, kami pun menuju ke pantai batu karas. Sore itu cukup ramai dengan pengunjung. Pantai batu karas ini biasa untuk surfing dan cocok juga untuk kita-kita yang mau belajar surfing. Terlihat beberapa pengunjung yang mencoba keberuntungan mereka dalam bermain surfing, seru memang. Namun kami datang bukan untuk menjajal surfing, sudah terlalu capek badan untuk kembali bermain air. Jadi sore itu kami hanya duduk-duduk di atas pasir menikmati pemandangan yang ditawarkan pantai batu karas.

Satu jam cukup bagi kami menikmati pantai batu karas, selanjutnya kami menuju pantai batu hiu. Kenapa dinamakan demikian, karena agak menjauh dari pantai terdapat batu yang menyembul dan berbentuk seperti ikan hiu dengan siripnya yang tegak. Spot paling bagus untuk melihat batu hiu ini ada di atas bukit/tebing. Untuk menuju ke atas tebing ini sudah disediakan tangga-tangga batu dan ini merupakan kawasan taman pantai. Dari atas tebing ini kita bisa menjangkau keseluruhan pantai batu hiu dengan ombaknya yang besar.

Menjelang malam kami pun kembali ke penginapan untuk bersih-bersih. Kemudian lanjut makan malam di salah satu restaurant sea food yang berada di pinggir pantai pangandaran. Makan sea food disini wajib hukumnya, masakannya enak-enak, apalagi makan rame-rame dengan teman-teman. Ditambah semua yang kami makan malam ini gratis hasil todongan ke mas Dwi yang hari itu ulang tahun hehe…

Datang jalan kaki, pulang pun jalan kaki, alhasil gue, Mas Aryo dan Corry mampir beli durian. Beruntung sekali saat itu ada yang jual durian, meski duriannya kecil-kecil tapi lumayan lah, mampu menjadi penawar rindu akan durian, caelah hehe… Dengan membayar 30 ribu kami sudah bisa bawa pulang 2 buah durian. Aseekkkkk….

Esok harinya, hari Minggu pagi gue jalan-jalan sendiri ke arah pantai dan ke pasar ikan dan jeprat jepret sana sini. Ada kapal nelayan yang kembali dari mencari ikan, kemudian diserbu mereka yang akan membeli. Ada juga yang menjual ikan asin sambil keliling, atau ikan segar di pasarnya. Ramai sekali pagi itu dan itu sangat menyenangkan.

Tibalah kami untuk perjalanan kami berikutnya, menuju ke Citumang. Ada apa di Citumang? Di Citumang ini kita bisa eksplore gua yang dialiri air berwarna hijau. Menuju ke dalam gua pun kita harus berenang, karena dasar sungai dalam gua ini lumayan dalam. Di dalam gua terdapat satu batang kayu atau akar pohon yang lumayan besar melintang, dan kita bisa memanjatnya hingga sampai di atas gua kemudian loncat ke bawah. Ekstrim bukan.  Guanya sendiri tak terlalu panjang, karena begitu menemukan satu ruangan yang gelap, disitulah tempat kita harus berhenti. Dan sepertinya aliran sungai ini berasal dari dasar gua yang tak terlihat. Cukup spooky sebenarnya, karena tiba-tiba kami langsung berebut untuk keluar gua hehe……

Setelah itu, kita body rafting lagi. Air sungai di citumang ini hijau jernih, lebih jernih dibanding green canyon kemaren. Adegan pertama yang harus kita lakukan adalah lompat dari atas air terjun. Tenang, air terjunnya cuma setinggi satu meter aja kok. Uniknya dibalik air terjun ini terdapat gua yang bisa kita lalui, cukup 5-10 menit. Selanjutnya kita bisa langsung mengarungi sungai ini.

Alam sekitar sungai yang masih sangat asri, hijau dan alami menambah daya tarik tempat ini. Ada pula akar pohon yang cukup kuat yang melintang ke sungai, kami pun tak sabar berebutan untuk mencoba bergelayutan di akar pohon tersebut hehe….Dan tentunya yang paling asik adalah banyak air terjun mini yang harus dilompati, seru.

Menurut gue yang agak ngeri adalah ketika sampai di bendungan, sungai disini lumayan lebar dan sangat tenang cenderung diam, ditambah pula airnya dipenuhi daun-daun kering. Jadi seperti mirip danau tanpa ada aliran yang bergerak, jadinya ya harus berenang sekuat tenaga untuk menuju ke bendungan. Begitu sampai bendunga, kita melewati aliran sungai kecil, duduk saling membelakangi dan masing-masing orang memegang kaki teman di belakangnya. Kemudian guidenya akan menarik dari depan, jadi kita jalan seperti kereta hehe… Dan sampailah kita di finish.

Kembali ke kota, kami menuju ke Cagar Alam Pananjung. Lokasinya berada di dekat kota pangandaran, dari penginapan kita bisa jalan kaki atau sewa sepeda kesana. Cagar alam ini memiliki banyak sekali tempat dan potensi yang bisa kita jelajahi. Ada berbagai macam gua, pantai, peninggalan jaman prasejarah, hutan alam, peninggalan jaman jepang dan masih banyak lagi.

Jalanan menuju ke dalam cagar alam sebagian besar sudah berconblock. Ada papan petunjuk yang jelas untuk menuju ke lokasi yang kita inginkan. Kami waktu itu menjajal gua jepang, kemudian peninggalan prasejarah batu kalde, lanjut menuju ke pantai pasir putih. Menuju pantai pasir putih ini kita perlu melalui satu bukit, dibalik bukit itulah kita akan menemukan pantai dengan pasirnya yang sangat putih.

Tapi hati-hati ya saat menuju ke pantai pasir putih ini, karena banyak sekali monyet-monyet yang berkeliaran. Tak segan-segan mereka aka menguntit kita, apalagi klo mereka melihat kita membawa makanan. Seperti halnya kami, sudah ada papan larangan agar tidak membawa makanan yang terlihat monyet. Namun Mas Dwi dengan santainya mala pamr makanan, padahal sudah kita ingetin. Akhirnya ya tau sendirilah, itu monyet-monyet menguntitnya dan berusaha merebut makanan yang dibawanya. Mas Dwi sendiri rada ketakutan dan makanan itu dilempar ke Mas Heri dan terjadi pemandangan yang lucu sekali. Kami pun tertawa tingkat dewa melihat ulah Mas-Mas kami ini hahaha……

Di pantai pasir putih ini juga banyak sekali monyet-monyet berkeliaran. Jangan letakin barang sembarangan, takutnya diambil mereka. Keusilan pun terjadi, sandal Corry kami sembunyiin di bawah pasir. Dia mencarinya sampai hampir mau nangis hahaha…..Akhirnya kami pun memberitahu dimana letak sandalnya, dan kami hanya bisa tertawa dan tertawa….

Inilah akhir petualangan di Pangandaran, karena kami harus segera kembali ke Jakarta melanjutkan hidup yang keras dan semakin keras saja disana hehe…

Lights and the city #instago #instagramers #instanusantara #jakarta #indonesia #indogallery #igdaily #igers #jj_forum #hdr_arts #statigram #bestoftheday #picoftheday (Taken with Instagram at Bandar Djakarta)

windy-ariestanty:

‘Feel the world with your heart. Rasakan dunia dengan hatimu, tidak hanya dengan penglihatanmu,’ kata Dina Dua Ransel kepada saya untuk Pathfinder.

DIPICU oleh rasa penasaran akan dunia dan jenuh dengan kehidupan yang monoton, Dina Rosita dan Ryan Koudys—pasangan suami-istri yang dikenal dengan julukan ‘Dua Ransel’—memutuskan untuk bertualang menyusuri dunia sekaligus menjadi digital nomad.

‘Kami ingin melihat dunia dengan mata kepala sendiri. Ingin merasakan dunia dengan hati dan pikiran sendiri,’ cerita Dina kepada saya. Dina dan Ryan memilih Barcelona, Spanyol sebagai titik mula perjalanan mereka mengelilingi dunia. Mereka hanya ingin menjelajahi Eropa. Mulai dari mana dan berakhir di mana tak masalah karena perjalanan dilakukan jangka panjang.

Read More

Kampung Raja Praiawang Rende atau dikenal dengan sebutan Desa Adat Rende, terletak sekitar 60 km dari ibukota Sumba Timur, Waingapu. Cukup jauh memang, namun niat kami untuk kesana sudah bulat. Hari Sabtu pagi gw beserta 2 orang teman dengan mobil menuju ke Rende.

Secara pribadi gw seneng, karena sejak jaman SMA gw sangat tertarik mempelajari sejarah tentang kepurbaan, apalagi Rende menyimpan berbagai hal berbau jaman megalithik. Seperti hal nya rumah adat lain di Sumba, Rende pun terletak di atas bukit. Di Rende selain terdapat rumah-rumah adat, penduduk yang masih memegang tradisi nenek moyang, yang paling menarik adalah adanya kubur batu raksasa. Ya benar, tanah Sumba ini selain terkenal dengan pasola, kuda sandlewood, juga terkenal akan tradisi marapu dan kubur batu megalithiknya.

Begitu masuk areal Desa Adat ini, kami langsung disambut kubur batu yang besar yang berjajar di tengah . Di sebelah kanan kirin kuburan berdiri beberapa rumah adat. Dari semua rumah adat memiliki bentuk yang sama, seperti joglo di Jawa dan bagian atap rumah memiliki bagian yang memanjang ke atas. Rumah adat ini terdiri atas bambu, kayu dan alang untuk atap. Namun ada satu rumah yang berbeda, rumah ini terbuat dari kayu, beratap seng dan berlantai 2. Rumah ini dahulunya merupakan kediaman Ratu Yuliana, salah satu keturunan raja terakhir.

salah satu kubur batu berusia ratusan tahun


Rumah adat di Rende


Rumah Ratu Yuliana semasa masih hidup


Suasana kampung raja rende


Makam kubur batu yang paling baru adalah milik tokoh terkenal dan mantan Bupati Sumba Timur, Bapak Umbu Mehang Kunda. Mehang Kunda ini merupakan salah keturunan asli dari Desa Rende. Dan kubur batu yang paling tua kemungkinan sudah berumur 200 tahun lebih. Batu-batu raksasa ini di ambil dari atas gunung oleh puluhan orang untuk dibawa ke desa. Dan upacara pemakaman adalah upacara paling meriah dan menguras biaya di Sumba ini.

Tanduk kerbau penghias rumah


Tugu batu atau semacam totemnya masyarakat adat sumba


Bentuk kubur batu dengan background rumah adat


Alam kampung raja rende


Saat itu kami hanya berjumpa dengan beberapa penduduk di Desa Rende ini, ngobrol-ngobrol dan menanyakan seputar desa adat ini dan kubur batunya. Apabila ada Raja yang meninggal, maka semua barang berharga milik raja akan ikut masuk dalam kubur, kuda milik raja pun disembelih dengan tujuan agar raja mempunyai kendaraan untuk menuju ke kahyangan. Barang-barang berharga maksudnya agar saat raja menuju ke kahyangan memiliki bekal dalam perjalanannya.

Dari Rende kami menuju ke desa adat berikutnya, gw lupa apa namanya. Nah di desa adat ini kami malah berkesempatan bertemu dan mengobrol dengan raja disana. Desa adat ini lebih hijau, dalam artian lebih banyak pepohonan dan teduh dibanding Rende. Rumah adat sang raja pun sudah dilengkapi dengan televisi dan parabola. Beliau bercerita kalo anaknya sekarang sedang kuliah di Jogja. Bhakna jaman mudanya dulu, sang raja pun kuliah di Jogja. Gw salut banget denger hal ini.

Bersama raja desa adat dan abdi dalem


Suasana kampung adat


Kubur batu dengan dikelilingi semak yang menghijau


patung buaya menandakan makam tersebut orang yang berpengaruh


Hidup boleh di desa adat dengan leluhur yang tetap dijunjung tinggi, namun orang-orangnya tetap harus maju, baik dari pemikirannya maupun masa depannya. Begitu kira-kira untuk menggambarkan penduduk desa adat di Sumba ini. Kami pun diajak berkeliling melihat-lihat kubur batu yang ada di sini. Kubur batu disini sedikit berbeda dengan yang ada di Rende. Disini lebih banyak menggunakan ornamen hewan-hewan seperti buaya, kerbau, ayam, kuda, babi dan kura-kura. Ini sebagai simbol untuk menunjukkan perbedaan kubur batu laki-laki atau perempuan.

Alat tenun


Seorang perempuan muda sedang menenun


Mengobrol dengan salah satu warga kampung adat


Satu lagi kampung adat yang terletak di waikabubak, Sumba Barat. Kampung adat ini dekat dengan kota Waikabubak, saat itu gw cukup jalan kaki saja dari hotel tempat gw menginap. Terletak di atas bukit dan untuk menuju kesana harus naik melalui jalan yang dibuat menyerupai tangga.

Kampung adat di sumba barat


Salah satu sudut kampung adat sumba barat


Kubur batu, bentuknya lebih sederhana


Memasuki kampung adat sumba barat


Kebetulan saat kesana hari masih pagi, penduduk banyak yang sudah mulai beraktifitas. Anak-anak ramai sekali berkumpul. Agak ngeri juga karena orang disana masih membawa semacam parang atau golok gitu. Gw sama teman-teman pun bertemu dengan Kepala Desa disana, kami menyampaikan maksud kami datang. Kami dikira wartawan karena membawa kamera, namun kami jelaskan bahwa kami hanya pengunjung biasa, mahasiswa yang sedang melakukan penelitian.

Bersama pemuda kampung adat setempat


Suasana keceriaan anak-anak di dalam kampung adat


Salah satu sudut kampung raja


Bersama pak kepala desanya


Kepala Desa tersebut pun menjelaskan dan menceritakan segala macam tentang kampung adat ini. Beliau bercerita anaknya saat ini kuliah di Jakarta sementara dia sendiri masa mudanya pernah di Medan. Gw sendiri sempat dikira orang Medan oleh beliau dan ini bukan yang pertama, teman-teman jadi menjulukiku Arief Sibutar-butar hahaha…

Rumah-rumah di sini cenderung sangat rapat satu sama lain dan ditengah-tengah terdapat kubur-kubur batu. Dikubur batu inilah anak-anak ramai sekali berkumpul. Rumah adat disini cenderung lebih kecil dibanding yang ada di Sumba Timur, namun bagian yang meninggi di atap tetap besar. Bagian bawah rumah biasanya dijadikan kandang untuk memelihara babi. Gw liat banyak sekali ornamen-ornamen rumah yang terbuat dari tulang, rahang dan gigi babi. Tanduk dan kepala kerbau pun ada disana.

Tanduk-tanduk kerbau yang disusun vertikal


Bekas rahang babi yang menghias rumah


Kolong rumah yang berfungsi sebagai kandang babi


Anjing penjaga makam


Disini juga dijual kain-kain hasil tenunan. Bahkan saat itu terdapat bapak-bapak yang sedang menenun kain. Harga yang ditawarkan memang cukup mahal, bisa ratusan bahkan jutaan. Akhirnya kami pun berkeliling, bercengkerama sebentar dengan anak-anak dan foto-foto untuk dokumentasi. Setelah puas, kami pun pamit untuk kembali ke hotel.

Seorang bapak sedang menenun tenunan kain sumba barat


Wajah-wajah ceria kami


Keceriaan anak-anak memang tak ada habisnya


Kompleks kubur batu


Salah satu kubur batu

Sleepless in walakiri beach #instago #instagood #travelingram #instanusantara #indonesia #sumba #beach #nature #skyporn #bestoftheday #picoftheday #photowall #instagramers #instagramhub #igdaily #igers #hdr_arts #jj_forum #primeshots (Taken with Instagram at waingapu, east sumba)

Bicara pantai di Waingapu, Sumba Timur tak akan ada habisnya. Kali ini pantai yang termasuk paling dekat dengan kota, namanya pantai Londa 4 dan Londa 5. Kedua pantai ini memang bersebelahan, tak ada pembatasnya karena merupakan satu garis pantai yang sangat panjang dan lurus. Barangkali karena saking panjangnya itulah kenapa dibagi dua, gw sendiri ga tau juga hanya menebak-nebak hehe…

Ketika berada di Waingapu gw hampir tiap minggu mengisi libur di pantai ini. Sekedar duduk-duduk rujakan sama teman-teman atau mandi-mandi. Selain menjadi pantai favorit keluarga untuk piknik, juga menjadi tempat favorit mereka yang sedang pacaran hehe. Apalagi letaknya memang lumayan dekat dengan kota, sehingga sangat mudah dijangkau siapa pun dan tentunya murah.

Jalan menuju ke kedua pantai ini searah kalo mau menuju ke pantai purukambera, hanya saja purukambera lebih jauh lagi. Pantai Londa 4 memiliki pasir yang putih dan pantai yang berbatu, sedang Londa 5 tidak begitu berbatu. Air pantai yang biru, alam yang masih alami dan cukup bersih. Banyaknya pepohonan di tepi-tepi pantai menjadikan pantai ini sangat cocok untuk bersantai dan bercengkrama dengan keluarga, teman-teman dan pasangan.

Dikala pantai surut, karang-karang datar terlihat sampai di tengah laut penuh dengan rumput lau, ganggang, lumut dan berbagai macam maklhuk laut lainnya seperti halnya teripang, bulu babi, bintang laut dan siput laut. Saat itu gw sama teman-teman berkeliling dan menemukan bintang laut berwarna biru, lucu dan menarik sekali. Dan perjalanan gw ini bersama-sama dengan Lola, Dina, Opi, Hendrik, Rony, Wempi, Susi, Elen dan Noldy.

Kalau pantai yang satu ini namanya Kalala. Pantai ini terletak 124 km dari Waingapu ke arah Melolo. Menuju kesana kita akan melewati Kampung Raja Rende dan Kampung Kaliunda dimana merupakan salah satu sentra pembuatan kain Sumba. Pantai Kalala ini dahulunya dikelola oleh orang Australia yang menetap disana. Terdapat beberapa cottage yang dibangun, namun seiring waktu, tempat ini ditinggalkan pemiliknya sehingga jarang turis asing yang datang kesini. Akhirnya beberapa bangunan cottage terbengkalai bahkan ada yang rusak. Hanya tinggal satu saja yang masih tersisa dalam bentuk bangunan rumah.

Sewaktu gw kesana, ada satu bule yang sedang liburan disana. Dia seorang mahasiswa dari Switzerland bernama Jack. Ketika gw tanya kenapa bisa memilih Sumba dan bukannya Bali. Dia bilang sempat ke Bali, namun menurut dia terlalu ramai, hingga akhirnya dia browsing-browsing dan menemukan pantai Kalala ini. Dan dia ingin belajar surfing di tempat yang gak rame.

Yah memang, pantai Kalala ini sangat cocok untuk yang hoby surfing karena ombaknya yang bagus. Si Jack ini sebelumnya sempat surfing bareng pasangan bule lain dari Prancis dan Spanyol, namun keduanya sudah kembali ke Waingapu. Kagum aja gw, seorang bule bisa menemukan tempat ini, yang orang Waingapu sendiri pun mungkin tak mengetahuinya.

Sekarang cottage utama masih dikelola dengan baik, mungkin oleh orang yang ditugasi pemiliknya. Bangunan kayu beratap rumbia yang cukup luas, sangat eksotis menurut gw. Papan-papan selancar berjejer rapi dan sebuah mini bar ada di tengah bangunan dilengkapi sofa-sofa dan tv. Tempat tidur kami sendiri berupa kasur yang dilengkapi kelambu. Dan listrik disini hanya sampai jam 11  malam saja, karena hanya mengandalkan genset.

Pantai Kalala memiliki pasir pantai yang luas, putih dan garis pantai yang panjang melengkung. Air pantai yang biru, langir cerah, ombak yang cukup menantang dan perbukitan disekeliling yang indah. Yang mau (belajar) surfing, sangat bisa. Tempat ini memperbolehkan kita memakai papan surfing secara cuma-cuma. Apakah karena kami sama-sama orang Indonesia jadi dikasih gratis, kurang tau juga ya.

Saat sore tiba kita pun bisa menikmati sunset dari sini. Sayang, sore itu langit sedikit mendung, sehingga matahari pun malu-malu menampakkan diri. Akhirnya kami pun hanya bisa beristirahat di ruang tengah cottage sambil nonton tv sambil menunggu makan malam. malam itu kami dimasakkan mie rebus telur sama buah pisang dan potongan semangka.

Tak bisa melihat sunset kemaren sore, pagi harinya gw mendapat ganti sunrise yang sangat cantik. Biarpun bukan dari arah pantai tapi arah sebaliknya, tapi warna keemasan cahaya mataharinya begitu indah. Rasanya seperti menemukan cahaya Surga.

Light from heaven #instago #instaweb #webstagram #instagram #instagramhub #iphonesia #igers #igerslover #jj_forum #sunrise #light #nature #instafamous #travelingram #sumba #indonesia #instadonesia #bestoftheday #picoftheday #photowall #instagood #igdaily (Taken with Instagram)