dulu waktu masih kuliah, seneng banget liat orang2 sukses yang jadi manager. yup, jabatan “manager” itu nampaknya...
Stars in a Full Moon by Electric Arc on Flickr.
Lunch follows with #indonesia sour soupy vegetable #sayurasem #vegan #vegetarian
Chai Kwe is a classic dish, THE traditional food from my town, mostly found in the Teochew community...
Sebagai mahasiswa teladan yang sarat pengalaman, gw mau berbagi langkah-langkah apa yang haus dilakukan jika akan mengerjakan...
Rinjani, 18 Juni 2012
Trek ke Danau Segara Anak cukup panjang, 3 -4 jam kata Mas Lun. Untuk turun aja masih begitu lamanya, sama kaya summit attack aja. Jalan landai, turunan, naik bukit sekali kemudian turun terus, begitu Mas Lun bilang. Apahhh, masih harus naik bukit lagi? Kirain tinggal turun, ya turun terus gitu.
Begitu sudah melewati bukit yang dimaksud, turunan mulai terjal dan curam serta berbatu. Harus hati-hati melangkah dan berpijak, salah pijak bisa jatuh bahkan fatal akibatnya. Tak jarang harus merangkak turun saking curamnya. Ransel yang ku bawa ini lama-lama tersa sangat berat. Dan akhirnya badanku pun terasa mau tumbang. Untung ada Suryadi, si porter paling muda. Dari awal turun dia sudah jalan di belakang kami, sementara porter yang lain sudah mendahului. Akhirnya aku titipin ransel ke Suryadi.
Salut sekali ma porter-porter di Rinjani ini. Mereka dengan pakaian sekedarnya, celana pendek, kaos dan sandal jepit, naik turun gunung membawa beban yang begitu beratnya, seperti enteng saja buat mereka. Dan mereka naik turun melewati trek juga dengan sangat enteng dan lincah. 4 jempol buat mereka. Tak jarang kita juga sering berpapasan dengan porter-porter dari pendaki lain, dan mereka para porter pun saling menyapa dan mengobrol sambil lalu.
Trek batu ini semakin curam, terjal dan licin, tak ada trek landai pun. Mas Lun bilang trek berbatu ini setengah perjalanan turun ke bawah. Setelah itu trek tanah dan landai. Di perbatasan antara trek batu dan tanah kami istirahat. Bunga tampak kelelahan dan kesakitan pada kakinya. Akhirnya kakinya pun diurut sama Mas Lun pakai minyak agar enakan.
Kami pun melanjutkan perjalanan, kali ini kami melintasi punggung bukit yang penuh dengan semak dan sabana. Di sebelah kiri dinding bukit, sebelah kanan kami jurang, dengan jalan sempit yang cukup dilintasi satu orang. Meski sudah tak securam tadi, tapi lumayan menguras tenaga juga, apalagi siang panas menyengat. Dan harus diakui, pemandangan disini luar biasa elok, seperti di luar negeri.



Jalan menanjak dibukit depan yang aku kira dekat, ternyata itu masih jauh. Danau Segara Anak yang mulai kelihatan dan membuat kami girang, kami kira sudah tinggal turun saja ke danau, tapi ternyata masih jauh juga….lama-lama pingsan ini, yaudahlah foto dulu aja, mumpung cuaca cerah dan cakep viewnya. Perjalanan pun terbagi dalam beberapa kelompok kecil akhirnya, Wisnu di depan agak jauh, disusul aku ma Dinda, dibelakang lagi ada Ajeng dan Mas Aryo dan paling belakang sekali ada Bunga ditemani Mas Lun.




Akhirnya sekitar jam 4 sore kami menemukan papan penunjuk arah menuju danau, horeeee…..sampai danau….terlihat porter kami disana sedang memasak, sementara tenda kami sudah berdiri sebagian. Aku dan Dinda nge-tag kamar eh tenda buat kami. Selanjutnya, melihat-lihat pemandangan sekitar Danau Segara Anak dong. Spektakuler, Alhamdulillah Puji Tuhan, aku bisa melihat dan merasaan sendiri danau dan gunung barujari yang tepat ada di depan mata ini. Tenda-tenda pendaki lain pun sudah banyak yang berdiri di sekitar danau tempat camp.







Wisnu, Ajeng dan Mas Aryo yang sudah sampai pun akhirnya mengambil spot masing-masing untuk mengabadikan moment ini. Terlihat di tengah danau ada barisan burung bilis sedang berenang. Banyak pula yang memancing di danau ini, sayang kami gak membawa pancing, begitupun para porter. Pengen si sebenarnya makan ikan danau, masih berharap para porter punya ide untuk menangkap ikan hehe…





Akhirnya kami dipanggil untuk makan siang rapel malam, saat itu . Padahal saat itu aku ma Dinda lagi seru-serunya foto loncat hahaha….yaudahlah mari kita makan. Menu sore ini nasi goreng, ayam goreng dan telur ceplok sama kerupuk. Penutupnya potongan buah nanas dan teh panas. Kenyang.




Kami dikasih tau, kalo jam 7 malam nanti diajak untuk berendam air panas, agar badan bisa rileks dan lebih segar. Namun setelah makan, aku ma Dinda masuk tenda dan masuk ke sleeping bag dan tidurrrr….Setelah itu aku gak tau apa-apa sampai pagi, diapa-apain ma Dinda pun aku gak tau saking nyenyaknya tidur buhahahaha…
(semua foto dokumentasi pribadi dan dari dokumentasi Ajeng)