A TRAVELER WITH GREAT ADVENTURES EXPLORING MOUNTAINS, BEACHES AND CULTURES

MY KAFE WRITER

Ajaib Hidup Ini.
Sebuah dunia untuk setiap perjalanan mengandung setiap langkah, setiap tarikan dan hembusan napas, setiap denyut nadi, setiap denyut jantung, setiap tetes keringat, ada makna, ada proses, ada pembelajaran, ada spiritualitas, ada senyuman, ada tangisan dan ada cerita
Recent Tweets @aarievo
Who I Follow

Rinjani, 19-20 Juni 2012

Bangun jam 5 pagi, badan terasa lebih enak. Barangkali karena kecapekan jadi semalam tidurnya nyenyak sekali. Dinda pun sudah mulai menunjukkan suaranya, berarti dia sudah bangun juga hehe… Dan ajakan pertama oleh Dinda adalah ‘liat sunrise yuk ip’. Jleb, ini masih gelap bro, bintang aja masih terang gitu kok ngajak liat sunrise hehe… Aku bilang nanti aja sekitar jam 6 lebih, meski ternyata pas kami keluar tenda jam 6.30 pun di Danau Segara Anak masih belum cukup terang. Maklum si, karena letaknya kan di dalam kawah, jadi sinar matahari terhalang oleh tebing-tebing tinggi.

Tenda-tenda lain pun sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Nampak pula beberapa ada yang sudah mulai memancing di pinggir danau. Aku dan Dinda inisiatif bagaimana kalau ke air panas aja, pasti enak ni dingin-dingin begini rendam-rendam kaki. Setelah nanya ke porter arah ke air panas, kami bertiga bersama Mas Aryo yang sudah bangun juga, menuju arah yang ditunjuk, disuruh mengikuti orang yang menuju arah yang sama. Namun kami mentok di sungai, orang yang di depan menyeberangi sungai, kami bingung apakah kami juga harus menyeberangi sungai, kami pun kembali ke tenda dan menanyakan kembali ke porter.

Akhirnya Suryadi yang mengantarkan kami ke air panas, Mas Aryo ga jadi ikut karena harus nabung pagi di tent toilet hahaha… Ternyata kami memang harus melewati sungai yang ujungnya berupa air terjun, dan sedikit melewati jalan setapak yang menurun. Di lembah yang agak tertutup dekat air terjun ini banyak pula tenda-tenda berdiri, tapi kebanyakan muka-muka warga lokal. Dari yang sudah tua sampai anak-anak pun ada. Mereka kesini memang untuk berendam air panas. Nampak bapak tua bersama cucunya atau anaknya, sedang duduk dekat perapian.

Suryadi pun pamit kembali ke tenda untuk jemput teman-teman yang lain kalau mau ke air panas juga. Sementara Dinda berendam kaki, aku jalan-jalan keliling sebentar untuk foto-foto. Rumput sabana hampir menutupi bukit yang ada disini, hijau kuning segar, basah oleh embun. Matahari pun mulai muncul dari arah barat, arah air terjun mengalir. Ketika aku kembali ke tempat Dinda, tampak dia sedang asik ngobrol dengan seseorang, dengan siapakah, padahal tak nampak ada orang di dekatnya, setan kah, atau jangan-jangan Dinda nemuin jodohnya di sini? #disini kepo dimulai hahahaha….

Oh ternyata ada seorang pemuda disana sedang berendam air panas, dia berendam seluruh badan bersama adik-adiknya dan kakaknya di sebuah kolam kecil. PAntesan Dinda semangat ngobrolnya.  Lho Dinda kok gak ikutan buka baju dan berendam badan juga? *ditoyor. Ku lihat sumber air panas itu keluar dari celah karang, air yang dihasilkan dibawah bercampur antara air panas dengan air dingin dari air terjun. Nampak kumpulan belerang ada sekitar celah karang-karang itu.

Tak berapa lama, teman-teman yang lain datang bersama Suryadi. Kami berendam kaki bersama-sama, sambil masih ngobrol dengan pemuda lokal itu, namanya Ahmad kalau gak salah. Tapi salah deh kayaknya hahaha…Sekitar 1 jam disana kemudian Suryadi, mengajak kami kembali ke tenda untuk sarapan dan bersiap-siap untuk kembali menanjak menuju Pelawangan Senaru.

Setelah sarapan dan packing, kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju Pelawangan Senaru. Mas Lun berpesan, agar selalu hati-hati, karena  jalur pendakian ke Pelawangan Senaru ini terjal, licin dan sering terjadi tanah longsor. Seperti yang bisa dilihat dari danau, ada longsoran di punggung bukit yang sepertinya belum begitu lama terjadi, bekas-bekas longsornya masih begitu segar dan jelas. Kalau mau foto-foto harus berhenti dulu, jangan sambil jalan, tambahan dari Mas Lun.

Jalur pendakian dimulai dengan menyeberangi sungai dan menyisir tepian danau baru kemudian mulai naik. Danau Segara Anak dan Gunung Barujari Nampak syahdu, langit yang biru, semua menjadi begitu cerah. Mulai mendaki dan bukan lagi sabana yang dilewati tapi semak-semak dan mulai banyak pohon-pohon tinggi namun belum begitu lebat.

Trek pendakian lumayan terjal, dari tanah kemudian mulai berbatu-batu yang licin dan hati-hati karena salah satu sisi adalah jurang-jurang vertikal. Terakhir kita menemukan kawasan yang penuh dengan batu-batu besar, batu-batu cadas yang relatif rata permukaannya, yang dinamakan kawasan batu ceper. Sekali lagi, hati-hati karena batu-batu ini licin. Seharusnya dari sini kita masih bisa meligat danau dan gunung Barujari, namun kabut sudah menutupi pandangan kesana.

Kami terus mendaki dan harus terus ekstra hati-hati, semakin terjal dan semakin lincin, apalagi tiba-tiba kabut sudah menutupi langit dan gerimis kecil pun turun. Semula tak kami hiraukan, kami berpikir mungkin sebentar lagi terang kembali (harapan kami, meski was-was juga). Namun gerimis tak kunjung berhenti. Beberapa dari kami pun mulai memakai jas hujan. Aku sendiri masih belum berniat memakai.

Akhirnya kami melewati bekas longsoran, perasaan yang ada saat itu ya kami harus jalan aja dan tetap hati-hati. Begitu melewatinya ada perasaan lega hehe… Tanjakan-tanjakan terjal dan batu-batu yang licin menjadi santapan kami berikutnya. Bahkan disana ada dipasang tonggak-tonggak besi berwarna hijau untuk bantuan pendaki menanjak. Dan ada beberapa kali kami harus climbing juga. Lengkap lah pokoknya trek ini.

Setelah melewati climbing terakhir, tibalah kami di Pelawangan Senaru. Katanya dari Plawangan Senaru pemandangannya bagus, bisa dapat lengkap, danau, gunung barujari dan puncak rinjani. Namun saat itu hujan gerimis dan berkabut. Disana pun ternyata ada warung sodara-sodara, amazing banget, ini warung (tepatnya didalam tenda) menjual beraneka snack dan softdrink. Disini aku putuskan untuk memakai jas hujanku.

Trek selanjutnya melewati puncak bukit, berlantai karang-karang terjal dan kemudian menuruni bukit secara vertical dengan kemiringan yang aduhai ngerinya. Apalagi ini merupakan trek tanah dan rumput sabana yang pendek-pendek, sangat licin dan harus sangat hati-hati menapakkan kaki, takut kepleset dan jatuh. Gak asik bro klo jatuh, betul-betul ngeri euy, gak bisa dibayangkan, apalagi hujan begini. Dan memang benar hujan turun tambah deras dan deras, jaket hujan pun tak mampu menahan derasnya dan basahlah seluruh badan.

Akhirnya kami sampai di Pos 5 (pos cemara), pos ini terdapat pondokan untuk beristirahat. Dari sini sudah mulai hutan lebat, penuh pepohonan, berbeda dengan di Sembalun. Itulah enaknya kalau kita naik dari Sembalun dan turun lewat Senaru, kita dapat lengkap. Sabana di Sembalun, hutan lebat di Senaru.

Dan kemudian kami lanjutkan ke Pos 4 yang jaraknya tak begitu jauh sekitar 30-40 menit. Disanalah nanti kami rencanaya akan mendirikan tenda untuk menginap semalam lagi. Awalnya kami berniat buka tenda di Pelawangan Senaru, namun akhirnya MAs Lun dan porter sepakat di Pos 4 saja yang ada sumber airnya. Pos 4 terdapat 3 pondokan, namun hanya 2 yang lantai kayunya masih terpasang rapi. Saat kami sampai disana, semua pondokan sudah penuh terisi, dan kebanyakan wajah-wajah saudara ku yang berkulit pucat alias bule-bule.

Terdapat satu pondokan di bawah dan berdiri tenda-tenda sewarna tenda kami, kami kira itu tenda kami yang sudah dipasang porter yang sudah sampai duluan. Sudah hampir senang, tapi begitu melihat pondokan tempat kami berteduh yang letaknya agak diatas, kok porter kami ada disitu juga. Ternyata serupa tapi tak sama, itu tenda milik orang lain. Yaudahlah, sambil berdiri kami ngobrol dan becandaan untuk mengilangkan dingin. Barangkali kamilah yang paling berisik saat itu hahaha….Apalagi suara ketawa kami yang sudah kayak dirumah sendiri hehe…hmmm…jadi pengen lagi… Apalagi saat itu banyak pemandangan bule-bule yang antara pantas dan tak pantas dimuka umum, tapi kalau gak bisa kedinginan nanti hohoho….penasaran? Santai bro, bukan mesum kok, tapi darurat. Nah lho, apa pula itu?

Setelah hujan reda, porter kami akhirnya mendirikan tenda sebelahan dengan pondokan tempat kami berteduh. Aku setenda lagi ma Dinda, yeaaaaah, lho?Hahahaha…. Kami pun bergantian untuk ganti baju kering dan aku rasanya sempat merasakan sedikit hipotermia, dingin akut. Baju yang di badan basah semua, termasuk sepatu dan jaket. Dompet yang disimpan di ransel pun tak luput ikutan basah. Jadinya duit-duit yang basah aku jemur di atas matras. Setelah semua selesai ganti baju dan porter selesai memasak, kami berkumpul duduk di pondokan untuk makan. Menu nya adalah spaghetti porsi besar, itu aja masih disuruh nambah ma porternya hahaha…. After all, enak kok.

Selesai makan, kami masuk tenda masing-masing, aku sama Dinda, Mas Aryo bareng Wisnu dan Ajeng setenda Bunga. Sementara para porter tidur di pondokan dengan sleeping bed.  Meski sudah dalam tenda, gak bisa langsung tidur juga. Teman-teman di tenda lain masih terdengar saling ngobrol. Sementara aku ma Dinda yang tendanya sedikit lebih jauh dari mereka pun memanfaatkan untuk bergosip..gosip..gosip..hahaha…gosipin siapa Din? Kasih tau ga ya hahahaha…

Esok paginya bangun, buka tenda terasa dingin sekali udara di luar akibat hujan kemaren. Beberapa kali mau keluar untuk ke tent toilet aku urungkan karena dingin. Dinda akhirnya memberanikan diri keluar. Akhirnya aku pun ga tahan juga dan segera keluar melepaskan penat di tent toilet hehehe….

Para porter sudah bangun lebih awal untuk masak. Roti bakar dan telur rebus menjadi sarapan kami dan tentunya teh manis panas. Namun mereka pun memasak nasi dan bikin masakan mirip oseng tempe pedas, aku pun nyobain dan itu juara banget rasanya, apalagi dimakan sama nasi panas. Maknyus. Setelah sarapan beres, kami pun bergegas packing dan segera turun ke pos selanjutnya.

Terasa sekali kesibukan packing saat itu, terasa begitu ramai dan seru. Engga porter engga kami, sibuk semua hehe…Contohnya kami yang sibuk memilih, apakah turun pakai sepatu atau sandal gunung? Karena sepatuku basah, aku memilih menggunakan sandal gunungku. Terlihat Bunga sedang memplester luka di kakinya, Ajeng yang asik berkaca, Wisnu yang sedang memakai kaos kaki, Mas Aryo yang sibuk mau pakai sepatu dan Dinda yang ngerapiin jaket setelah meninggalkan biskuit di pondokan hahaha….

Pagi itu sempat gerimis juga, namun karena karakternya hutan lebat, jadi kami terlindungi oleh pohon-pohon yang tinggi. Namun kami pun tetap memakai jaket anti hujan kami masing-masing. Termasuk Dinda yang hanya memakai jaket biasa, kali ini dia memakai mantel hujan. Mantel yang sebagian menutup tubuhnya itu, membuat dia nampak sepeti gadis dengan mantel biru hehe…. sayang sekali ga difoto waktu itu hihi….

Trek turun ini didominasi banyak akar pohon yang menjalar di jalan, jadi kami harus hati-hati juga agar jangan sampai tersandung atau tersangkut. Dan saat itu Dinda yang penuh semangat bcanda sambil lompat-lompat ke bawah. Mas Lun langsung memarahi Dinda eh maksudnya nasehatin, agar jangan lompat-lompat, berbahaya. Karena dulu ada bule Perancis yang udah dibilangin untuk jangan lompat, eh ngeyel trus malah bilang ’ it’s oke, i’m gonna be fine ‘, nah pas lompat kakinya ada yang nyangkut di akar pohon patah deh tuh kaki. Serem bukan. Hati-hati ya, jangan suka ngomong sembarangan di gunung.

Selama dalam perjalanan Mas Lun tak segan untuk memberitahu dan menjelaskan apabila kami menemui pohon-pohon endemik disini. Misalnya saja pohon klak ini. Pohon klak ini sangat dengan mudah dapat kita jumpai. Pohonnya bisa tumbuh sangat tinggi dan besar, sementara daunnya kecil dan bunganya berwarna pink dengan wangi serupa melati. Sementara di tempat lain kami juga menemukan jamur.

Kami pun berpapasan dengan seorang dosen di sebuah universitas di mataram, nampak dia sedang asik mengumpulkan daun-daun, terlihat dari tas nya yang berisi berbagai maam dedaunan, sepertinya sedang melakukan riset. Dia ternyata tak sendiri, ada bersamanya 2 orang yang ternyata dari pos 4 berada di belakang kami.

Ada saja kejadian lucu selama dalam perjalanan yang bikin kami tertawa. Seperti saat di belakang kami tiba-tiba terdengar lagu dangdut yang diputar lumayan lumayan kencang. Ternyata lagu ini berasal dari radio seorang porter lain.  Suara melengking Nini Carlina yang mendendangkan ‘gantengnya pacarku’ seolah membuat kami langsung ikut menyanyi meski cuma bagian ‘aww’ nya saja hahaha…..  Mas Aryo pun tiba-tiba teringat model pria dalam videoklip lagu itu, siapa dia, kasih tau ga ya?hihihi…..Ayo Dinda mainkan gimana gaya model itu hahaha……

Lalu ketika kami tiba di Pos 2, ada 2 orang bule yang turun sambil berlari dan tiba-tiba salah satunya dengan masih tergopoh-gopoh nanya apakah ada dari kami yang punya tisue toilet?Bunga yang masih nyimpan tisue toilet pun menawarkan pada bule itu dan setelah bilang terimakasih tu bule langsung ngacir ke arah bawah. Aku pikir dia mau pup di sembarang tempat, ternyata agak menjorok dibawah ada toilet. Cuma di Rinjani bukan ada toilet di gunung. Setelah itu bule selesai, ternyata temannya yang satu pun ambil bagian juga hahaha…

Setelah Pos 2  terdapat Pos ekstra, dari sini trek sudah mulai tak penuh akar2 pohon, mulai landai dam tidak terjal. Kemudian sampailah kami di Pos 1 dan setelah  itu barulah kami sampai di Pintu Senaru. Ada sebuah sebuah gapura besar disana sebagai pintu gerbang masuk ke Rinjani. Porter kami sudah ada disana, mereka sedang masak makan siang kami. Kami pun istirahat di sebuah pondokan dan di dekat pondokan ada kios yang jual snack dan minuman softdrink.

Porter kami telah menyediakan teh manis hangat plus ada pisang goreng juga. nyummy….Tak lama nyusul makan siang kami, mie rebus sayuran plus satu butir telur rebus. Seperti biasa, ada yang rewel kalau makan mie rebus ada sayurannya begini hahaha…

Di pintu masuk utama Senaru ini semakin banyak pendaki yang datang, dan semua baru akan naik. Pendaki atau juga bisa dibilang turis ini semuanya bule, barangkali cuma kami dan rombongan dosen 3 orang itu yang orang Indonesia. Ramai sekali udah kayak pasar saja. Selesai makan, kami pun berkemas dan lanjut jalan menuju ke gerbang paling depan, kalau berangkat dari Senaru tempat untuk mendaftar dan minta ijin pendakian.


Melewati perkebunan pisang lalu kopi, dan kami pun menemukan rumah penduduk dan ada sepeda motor, huaaaaa……welcome back peradaban hahaha…..Tiba-tiba muncul Suryadi si porter dengan motor, Ajeng pun dibawanya menuju ke bawah. Aku sama Wisnu pun akhirnya sampai dibawah nyusul Ajeng. Suryadi sudah kembali lagi membawa Dinda dan Bunga sekaligus. Terakhir Mas Aryo dan Mas Lun jalan menuju gerbang.

Selanjutnya kami menuju ke markas Galang Ijo, kemudian foto2 dengan para porter dan pamitan. Entah tiba2 merasa sedih harus berpisah dengan orang2 baik ini, setelah 4 hari bersama di gunung. Tapi kami harus segera menuju Bangsal mengejar kapal untuk menuju Surga dunia yang lain di Lombok, Gili Trawangan. Woooohooooooo…….

Terimakasih Rinjani, terimakasih untuk perjalanan spektakuler ini. Kau sungguh- sungguh sangat mengangumkan, kau mengajarkanku bahwa naik gunung itu bukanlah tentang menaklukkan puncak, tapi menaklukkan mental. Kau mengajarkanku untuk bertahan diantara kondisi hidup dan serasa akan mati. Dan aku beruntung bisa menjelajahi kesempurnaanmu, karena kaulah Spektakuler Rinjani.

Very-very big hug buat teman-temanku Dinda, Ajeng, Wisnu, Bunga dan Mas Aryo dan many big thank buat Mas Lun dan the poters plus Galang Ijo.

(semua foto adalah dokumentasi pribadi dan dari dokumentasi Ajeng & Bunga)

Rinjani trekking 17-20 Juni 2012 :

17 : Pintu Sembalun - Pelawangan Sembalun

18 : Summit Attack -Pelawangan Sembalun - Segara Anak

19 : Segara Anak - Pelawangan Senaru - Pos 4 Senaru

20 : Pos 4 Senaru - Pintu Senaru